DEMIKIAN Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri, Bekti Nugroho, menyesalkan tentang tragedi di Tual, Maluku Tenggara, ( detikcom Sabtu (21/8 ). "Kami mengutuk keras. Bagaimana mungkin jurnalis yang bekerja sah dan halal demi kepentingan masyarakat kok tega-teganya dianiaya hingga tewas," ujar Bekti.
Jurnalis televisi senior ini, menyatakan di sisi lain ada pelajaran penting yang dapat diambil dari tewasnya Ridwan Salamun. Pekerja pers agar lebih berhati-hati saat melakukan peliputan di daerah atau dalam suasana konflik.
Bagaimana pun keselamatan lebih utama," tegas Bekti. Kasus ini juga harus ditanggapi perusahaan pers sebagai pelajaran meningkatkan pelatihan bagi para jurnalis--terutama yang bertugas di lokasi rawan bahaya. Termasuk memberi perlindungan semacam asuransi kesehatan dan jiwa bagi seluruh pekerja pers.
“Kepada kepolisian, agar segera mengusut serius kasus ini dan menangkap para pelakunya serta aktor intelektual di belakang pembunuhan ini," sambung Bekti.
Kronologi Tawuran Warga di Tual Tewaskan Ridwan
Ridwan Salamun tewas ketika meliput tawuran antar warga di Tual, Maluku Tenggara. Jurnalis televisi itu dikeroyok secara brutal oleh salah satu kelompok yang terlibat tawuran.
Tawuran berawal dari masalah sepele antar dua kelompok pemuda desa yang bertetangga. Seorang pemuda dari Desa Bandaeli menegur pemuda Desa Tigitan karena berkendara sepeda motor secara ngebut sehingga membuat bising yang mengusik salat tarawih.
Mungkin teguran memicu rasa ketersinggungan. Buntutnya, si pemuda pengendara sepeda motor yang ditegur itu, lantas mengerahkan kawan-kawan dari desanya untuk melampiaskan rasa tersinggungnya.
"Polisi sudah berusahan mencegah, tapi kewalahan mengimbangi banyaknya
Kronologi kejadian versi polisi terkait bentrokan warga menyebabkan Ridwan tewas: 16 Agustus--Saat salat taraweh seorang pemuda Kampung Bandaeli menegur pemuda Desa Tigitan Kecamatan Dula Utara yang melintas karena ngebut memakai sepeda motor bersuara bising. 19 Agustus--Terjadi pelemparan di Bandaeli diduga dilakukan oleh pemuda Kampung Tigitan akibatnya beberapa rumah rusak. 20 Agustus--Selepas salat Jumat tokoh dari dua desa bermusyawarah untuk menghentikan pertikaian dan sepakat didirikan posko yang dijaga Polres dan Polsek Maluku Tenggara.
21 Agustus--Antara pukul 06.00-07.00 WIT kelompok Bandaeli menyerang ke Tigitan dan terjadi bentrok
"Pada saat bentrok terjadi, saudara Ridwan Salamun ditikam tombak di bagian badan dan ditebas parang dari belakang. Diduga dilakukan oleh kelompok Tigitan," tutur Iskandar.
Melihat ada korban yang tergelak dengan luka parah, polisi bergegas memberi pertolongan. Ridwan dilarikan ke RS terdekat dan sempat mendapat penanganan medis. "Tapi nyawanya tidak tertolong lagi. Kasus ini diusut Polres Maluku Tenggara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar