
Dirut Pelindo II, RJ Lino mengatakan, pembagunan tersebut membutuhkan sedikitnya membutuhkan dana sedikitnya Rp 30 triliun. Untuk pembebasan tanah 10 ribu hektar saja membutuhkan dana Rp 6 triliun.
Pelindo II mengincar perusahaan pelayaran asing asal Eropa untuk diajak melakukan kerjasama strategis (strategic partner) dalam pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok,
"Pembangunan pelabuhan di wilayah Karawang akan dilakukan secepatnya," kata Lion di Jakarta, Rabu (1/9) malam.
Menurutnya, pada 2022-2025 Pelabuhan Tanjung Priok sudah tidak bisa dikembangkan lagi alias mengalami stagnasi. "Kalaupun kini Pelabuhan Tanjung Priok sedang dan akan dikembangkan, itu merupakan upaya pengembangan terakhir dengan mempertimbangkan kondisi wilayah
Saat ini Pelindo sedang memilih beberapa lokasi, di antaranya Cilamaya. Sebelum akhir tahun diharapkan sudah ditetapkan lokasinya dan tahun depan sudah bisa dibuat grand design-nya. "Lalu baru dimintakan izin ke pemerintah," kata dia.
Proses pembangunan pelabuhan di wilayah Karawang, jelasnya, yang pada dasarnya merupakan pengembangan lebih jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok itu tidak bisa berjalan mudah.
Pertama, pendanaan yang dibutuhkan cukup besar, mengingat kapasitas tampung dan bongkar muat akan dibuat jauh lebih besar dari Pelabuhan Tanjung Priok atau sekitar 10 juta TEUs dan mampu mengantisipasi tingginya arus petikemas dalam tempo 100 tahun ke depan.
Kedua, proses pembebasan lahan butuh waktu dan butuh dukungan regulasi pembebasan lahan yang kondusif.
Ketiga, dibutuhkan dukungan infrastruktur, seperti akses tol. "Tapi ini harus dilakukan, karena kami melihat prospek yang sangat menguntungkan ke depan. Kalau soal dana, bisa lewat berbagai opsi mulai strategic partner hinggga pinjaman atau obligasi. Kalau lahan pemerintah juga sebentar lagi menerbitkan RUU tentang Pengadaan Lahan," kata dia. Tribunnews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar