Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Senin, 06 Februari 2012

87 Warga Keracunan Kue Dodongkal


korban keracunan dirawat di RSUD Karawang
KARAWANG, REALITA Online — Puluhan warga Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, harus dirawat karena mual, muntah, pusing, dan lemas setelah mengonsumsi kue dodongkal. Hingga Senin (6/2/2012) siang, tercatat 87 orang telah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Karawang.
Para korban berasal dari Desa Tegalwaru, Mekarmaya, dan Cilamaya. Mereka mengaku merasakan gejala keracunan, seperti mual, muntah, dan pusing, sekitar 2-3 jam setelah makan kue tradisional yang dijajakan pedagang keliling, Kamis sore pekan lalu.
Kamis malam, korban keracunan secara bergelombang datang ke Puskesmas Cilamaya. Akibat tak tertampung, mereka sebagian langsung ke RSUD Karawang. Hingga hari keempat, Senin, jumlah warga yang keracunan mencapai 87 orang.
Pemerintah Kabupaten Karawang menyatakan peristiwa ini sebagai kejadian luar biasa. Selain memeriksa sampel kue dodongkal, pemerintah juga menggratiskan seluruh biaya pengobatan dan rawat inap para korban.
Dodongkal Yang Meracuni Warga Ternyata Mengandung Nitrat
Misteri kue dodongkal yang meracuni puluhan warga Desa Tegalwaru dan Mekarmaya, Kecamatan Cilamaya wetan Mulai terkuak, Senin (6/2). Kue itu ternyata mengandung zat nitrat cukup tinggi sehingga dapat mebahayakan orang yang mengkonsumsinya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kua dodongkal yang dikonsumsi para korban mengandung nitrat. Zat tersebut biasanya terdapat pada pupuk atau obat pembasmi hama tanaman,“ ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr. Yuska Yasin, ketika dihubungi, Senin (6/2).
Menurut dia, para korban yang dirujuk ke RSUD Karawang kondisi kesehatannya sudah mulai membaik. Bahkan 54 korban telah dipulangkan ke rumah mereka masing-masing dengan menggunakan bus yang disiapkan pemkab setempat.
Sementara puluhan pasien lainnya masih di rawat di ruang khusus RSUD menunggu kondisinya membaik. “Mereka ditempatkan pada satu ruangan yang terpisah dari pasien lainnya. Dengan demikian pemeriksaan terhadap korban keracunan itu bisa dilakukan lebih instensif,” kata Yuska.
Sementara itu, suami pedagang dodongkal beracun, Narsim (60), warga Kampung Ondang Desa Tegalwaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, menyerahkan diri ke Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Karawang, Minggu (5/2) pukul 21.00 WIB.
Dia mengaku tidak sengaja menumpahkan obat pembasmi hama keong mas ke dalam adonan kue dodongkal ketika terlibat pertengkaran dengan anak tirinya, Asep (23).
“Pada malam sebelum kejadian, saya bertengkar dengan Asep, anak tiri saya. Dia terus memaksa meminta sejumlah uang dengan alasan untuk membayar utang,” ujar Narsim ketika menuturkan hal itu dalam Bahasa Jawa Pantura yang kental.
Menurut Narsim, dirinya merasa kesal kerena anak tirinya itu tidak mau mencari pekerjaan. Sementara dia banting tulang menjadi buruh tani untuk menafkahi keluarganya. Karena tidak punya uang, lanjut Narsim, permintaan anak tirinya itu ditolak mentah-mentah.
Rupanya penolakan tersebut membuat Asep marah. Bahkan Asep berupaya menikam dirinya dengan sebilah pisau dapur, sehingga saat itu terjadi pergumulan yang sangat sengit.
“Ketika kami sedang berantem, tanpa sengaja saya menendang botol obat pembasmi keong mas. Lantas isi botol itu tumpah ke dalam adonan kue,” kata Narsim.
Setelah itu, Narsim mengaku bergegas pergi untuk menghindari pertengakaran dengan anak tirinya. “Ketika warga ribut-ribut keracanuan, saya sedang menggarap sawah milik orang. Saya sama sekali tidak kabur dari rumah,” ujar Narsim.
Kejadian tersebut mengundang perhatian banyak warga. Apalagi sejumlah mobil ambulan yang dikerahkan pihak Dinas Kesehatan setempat terus-menerus membunyikan sirinenya.
 “Para pasien yang dilarikan ke sini mengaku telah menyantap dodongkal yang dijajakan pedagang keliling,” ujar petugas medis Puskesmas Cilamaya, Saripudin.
Menurut dia, keluhan mereka sama yakni menderita sakit perut, nyeri lambung, dan mual-mual seusai makan dodongkal. Untuk menghilangkan rasa nyeri itu pihak Puskesmas telah memberikan sejumlah obat dan cairan infus.  kompas, PRLM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar