Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Kamis, 31 Mei 2012

Rengasdengklok Mengukir Sejarah dan Tonggak Sejarah


Rumah singgah bung Karno di Rengasdengklok
RENGASDENGKLOK, ReALITA Online — ENAM PULUH ENAM tahun lalu, Rengasdengklok hanyalah sebuah kota kecil yang terletak di pesisir pantai utara Karawang, Jawa Barat. Tapi kota kecil ini mengukir peristiwa bersejarah yang populer dengan sebutan “Drama Sehari” penculikan Soekarno-Hatta yang merupakan “Tonggak Sejarah”, yang mendorong terjadinya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Pada dinihari Kamis 16 Agustus 1945, para pejuang pimpinan Sukarni-Chairul Saleh melakukan penculikan terhadap “dwitunggal” Soekarno-Hatta, dan menyingkirkan ke Rengasdengklok.
Rombongan pemuda yang membawa Bung Karno-Hatta bergerak meninggalkan Jakarta pada pukul 04.20 subuh dengan kawalan sekitar 20 orang prajurit Pembela Tanah Air (PETA). Bersama rombongan turut pula Bu Fatmawaty dengan menggendong Guntur yang pada waktu itu masih berusia sembilan bulan.
Setibanya di Rengasdengklok pukul 09.00 pagi, semula Soekarno-Hatta ditempatkan di asrama PETA. Kemudian dipindahkan ke rumah seorang Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong yang telah dikosongkan. Rumah ini terletak di tengah sawah berjarak sekitar 500 meter sebelah utara pusat asrama tentara Jepang dan tangsi PETA. Di rumah inilah terjadi perundingan antara Soekarno-Hatta dengan Sukarni dkk, menyangkut proklamasi kemerdakaan Indonesia.
Banyak variasi kisah seputar “Drama sehari penculikan Soekarno-Hatta” ke Rengasdengklok itu. Dalam buku pemugaran Tugu Rengasdengklok, yang saat ini masih terbengkalai, disebutkan golongan pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk mengupayakan kemerdekaan saat itu juga, yaitu 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok.
Dengan menyandang pistol, Sukarni berteriak keras kepada Soekarno agar segera mengucapkan proklamsi. “Sekarang Bung…. sekarang saatnya proklamasi kemerdekaan…,” teriak Sukarni kepada Soekarno. Tetapi Bung Karno menolaknya.
Kalau saja Bung Karno menyerah terhadap tuntutan pemuda--niscaya dari kota inilah pada tanggal 16 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia akan berkumandang. Maka tak heran, jika Bung Hatta menulis: “Peristiwa Rengasdengklok merupakan suatu sumbangan dan jasa besar bagi terjadinya proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dan lahirnya Negara Indonesia.”
Andaikata Sukarni masih ada, barangkali rumah bersejarah milik Djiaw Kie Siong
pasti sudah dibeli oleh negara—bahkan tidak akan dibiarkan terbengkali serta ditempati oleh anak-anak pemiliknya sampai sekarang.
Akan tetapi, rumah bersejarah tersebut hingga kini masih ditempati Yayang salah satu cucu Djiaw Kie Siong—membuat nurani Imun Munandar terketuk untuk melakukan gerakan mengumpulkan koin Rp.1000 untuk biaya pembelian rumah tersebut. Sebab menurut sudut pandangnya, Rengasdengklok adalah tonggak sejarah yang telah mengukir peristiwa sejarah. Usia Negara Indonesia bila dikaitkan sejak hari, tanggal, bulan, dan tahun, ketika peristiwa “Drama Sehari” di Rengasdengklok, rumah bersejarah tersebut pantasnya sudah menjadi milik negara dan dijadikan situs yang mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi.
Rupanya aksi pengumpulan koin yang diprakarsai Ketua PAC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Rengasdengklok itu, ternyata menggugah hati dan pikiran Bupati Kabupaten Purwakarta, H Dedi Mulyadi, yang sempat berniat untuk membelinya.
Namun menurut Imun, walaupun Dedi Mulyadi tidak jadi membeli rumah bersejarah tersebut, tapi ”gayung bersambut”. Rumah tersebut sudah dipagar lengkap dengan gapura yang telah menghabiskan biaya sekitar Rp.79 juta.
Kepedulian Bupati Purwakarta tersebut terhadap sejarah, pantas diancungkan jempol. Apalagi keberadaan rumah bersejarah tersebut bukan berada di Kabupaten Purwakarta, melainkan di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. E Sirait    sumber: Tabloid Berita Independen ReALITA edisi cetak no.102                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar