Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Senin, 16 Agustus 2010

Bebas Bicara, Pemimpin Tutup Telinga

JAKARTA, ReALITA OnlineKepemimpinan SBY-Boediono mendapat banyak catatan. Momentum peringatan Hari Kemerdekaan ke-65 tahun, diharapkan menjadi momen evaluasi untuk memperbaiki kinerja pemerintahan yang berimplikasi pada kesejahteraan rakyat. Dari sisi kebebasan berekspresi den menyatakan pendapat, apa yang terjadi saat ini memang bisa diapresiasi.

Namun, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie M Massardi mengatakan, suara-suara dan aspirasi rakyat selama ini tak didengarkan oleh pengambil kebijakan. "Dibandingkan masa lalu, saat ini kita memang sudah bebas bicara. Tapi pemimpinnya justru menutup telinga, jadi tidak mendengar suara dan jeritan rakyatnya," kata Adhie saat mengisi diskusi Radio Trijaya "Merdeka tapi Cemas", di Jakarta, Sabtu (14/8).

Ke depannya, menurut dia, Indonesia butuh pemimpin atau elit-elit yang memiliki rekam jejak keteladanan. "Jangan pemimpin yang malu karena nilai tukar mata uangnya banyak nol-nya, sehingga usul gila redenominasi. Tapi justru tidak malu ketika rakyatnya bunuh diri karena utang Rp 20.000," kritiknya.

Mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid ini menambahkan, negara harus memainkan perannya mensejahterakan kehidupan rakyat. "Tetapi, semakin ke sini, Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat justru menciptakan situasi yang semakin kacau. Institusi hukum melakukan kebohongan publik dan memicu anarkisme," ujarnya. kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar