Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Jumat, 27 Agustus 2010

Pelaku Hipnotis Sering Pindah Negara

JAKARTA, ReALITA OnlineBoleh jadi korban aksi perampokan dengan cara menghipnotis yang dilakukan komplotan warga negara asing, tidak hanya di Lampung dan daerah Indonesia lainnya. Dari hasil penangkapan dua warga negara Turki yang diduga sebagai pelakunya, diketahui mereka sering berpindah-pindah negara.

KEPALA Satuan III Jatanras Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Nico Afinta, mengatakan hal tersebut kepada pers, Kamis (26/8/2010). Kata dia, kedua pelaku warga Turki ini datang ke Indonesia dengan visa turis. “Di paspor mereka tercatat para pelaku kerap mengunjungi Indonesia, Malaysia, dan Vietnam,” jelasnya.

Dua pelaku penghipnotis pegawai minimarket di Lampung teridentifikasi karena CCTV yang merekam aksi tersebut. Wajah dan sosok pelaku di tayangan CCTV ini dikenali oleh pemilik sebuah rental mobil yang juga menjadi korban penipuan kelompok itu.

"Tayangan CCTV ini dikenali oleh pemilik rental mobil, yang mana para pelaku ini telah menyewa selama satu minggu dan tidak kembali," kata Nico Afinta. Para pelaku dikenali dari baju yang dipakai para perampok hipnotis. Baju tersebut berwarna gelap dan menjadi barang bukti.

Meski demikian, kedua pelaku masih tak mau mengaku bahwa mereka pelaku hipnotis di minimarket di Lampung. Saat ditanya seorang wartawan, salah satu tersangka bernama Yaman Alper (19) berujar dalam bahasa Inggris, "Many Aarabian's face are similar with me, it's not me! They've captured the wrong guys. They're lied. (Banyak orang Arab berwajah mirip dengan saya, itu bukan saya. Mereka telah menangkap orang yang salah. Mereka berbohong)." esi, kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar