
JAKARTA, ReALITA Online — Pemerintah menetapkan awal Ramadan 1431 H sekaligus awal bulan puasa jatuh pada hari ini (11/8). Keputusan itu diambil dalam sidang itsbat (penetapan awal Ramadan) di kantor Kementerian Agama (Kemenag), dengan mempertimbangkan pengamatan hilal di beberapa titik di tanah air. Pengamatan hilal atau rukyatul hilal telah dilakukan di sepuluh
"Penetapan ini dilakukan setelah hilal terlihat di empat tempat," ujar Menteri Agama Suryadharma Ali ketika memimpin sedan Itsbat di kantornya, Jalan Lapangan Banteng,
Direktur Pembinaan Islam dan Urusan Syariah Kementerian Agama (Kemenag) yang juga Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Dr Rohadi Abdul Fatah memperkuat penetapan itu. Dia mengatakan, dari pengamatan resmi Kemenag di 10 titik di
Sidang penetapan awal Ramadhan yang dipimpin Menteri Agama Suryadharma Ali itu juga dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Makruf Amin, Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Wahyu Widiana, Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar, pimpinan ormas-ormas Islam, perwakilan negara sahabat, dan anggota Badan Hisab dan Rukyat Kemenag.
"Rohadi menyampaikan, sejumlah badan hisab dan ormas Islam telah melakukan hisab (penghitungan tanggal) dan ijtima" menjelang penetapan awal Ramadan. Dan hasilnya menyebutkan penentuan bulan terjadi kemarin sekitar pukul 10.00 WIB. Karena itu, saat matahari terbenam pada sore hari kemarin di seluruh Indonesia, posisi hilal diperhitungkan ada di atas ufuk pada ketinggian 1 derajat 14 menit sampai 2 derajat 30 menit. Artinya, sesuai hisab, bulan baru dapat dilihat dengan mata telanjang untuk menentukan awal Ramadan.
"Alhamdulillah, hasil hisab diperkuat dengan fakta rukyah yang memang ada saksi melihat bulan. Tahun ini, hampir seluruh ormas Islam sepakat 1 Ramadhan pada Rabu (hari ini, Red)," kata dia.
Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghazali Masroeri mengatakan bahwa hasil hisab dalam almanak PBNU untuk markaz
"Jadi pada dasarnya hilal memang dapat dirukyat dengan mata telanjang karena berada di atas standar imkanur rukyat (visibilitas pengamatan, Red) yang telah disepakati oleh negara-negara anggota MABIM (
Suryadhama menambahkan, setelah menampung masukan dari berbagai Ormas, ke depan pemerintah akan membuat kesamaan kriteria penentuan rukyatul hilal. Suryadhama mengatakan, di masa mendatang perlu ada pencerahan terkait hal itu. "Ulama dan pemerintah perlu berkumpul lagi, kriteria kita tetapkan bersama sehingga awal Ramadan dan Syawal tidak ada perbedaan lagi," pungkasnya. JPNN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar