Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Jumat, 27 Agustus 2010

TKI Siti Hodijah, Patah Pinggang dan Kaki

BEKASI, ReALITA Online – Siti Hodijah (30) warga Desa Karangreja, Kec. Pebayuran, Kab. Bekasi, Jabar, mantan TKI baru 6 bulan di Riyad Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga, sudah mendapat siksaan majikan. Dia dari lantai 5 rumah tempat bekerja didorong oleh majikan yang mengakibatkan pinggang dan kakinya patah.

PENYIKSAAN sang majikan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara asing bisa dipastikan bahwa Siti Hodijah Binti Walan menambah urutan jumlah korban. Tidak cukup sebatas penyiksaan, bahkan gaji sekali pun selama menjadi pembantu rumah tangga tidak diberikan sampai kembali ke Indonesia.

Kini ibu satu anak ini menderita dengan tubuh lemah tak berdaya. Siti yang kurus tidak mampu menggerakan tubuh, kecuali sang ayah atau ibundanya membopongnya ke kursi roda.

Kondisi kesehatan tubuhnya memang sangat membutuhkan pengobatan dan perawatan rutin ke rumah sakit. Namun, Walan sang ayah tampaknya seolah pasrah akan nasib putrinya itu dengan alasan tidak memiliki uang.

Kisah Siti sampai berada di negara asing nan jauh dari kampung halamannya Karangreja, bermaksud keluar dari belenggu kemiskinan. Selain ditinggal cerai oleh suami bersama satu orang anak, juga kedua orangtuanya tergolong keluarga tidak mampu.

Siti yang malang tanpa pikir panjang seperti apa hidup di negara asing, ia pun bersedia direkrut salah seorang sponsor Penggerak Jaringan Tenaga Kerja (PJTKI) PT Al Husein Putra Mandiri (PT AHPM) yang beralamat di Jalan Hasan No.33B Pasar Rebo Jakarta Timur ke Riyad enam bulan lalu.

Dan bukan rahasia umum lagi, sasaran utama para sponsor tidak lebih orang-orang- dari kalangan keluarga yang hidupnya serba pas-pasan serta berpendidikan sangat minim. Jadi sangat memungkinkan tak dapat berbuat apa-apa jika anak mereka kelak ditimpa masalah di negara asing, selain pasrah dan merenung.

Menurut penuturan Siti kepada ReALITA Online, Kamis (26/8), di kediamannya, perusahaan yang memberangkatkannya sampai kini tidak tahu menahu akan nasibnya. Padahal saat ia dikembalikan majikan ke Indonesia, kata dia, berjanji setelah ia di kampung halaman mengirim biaya pengobatan setiap bulan--termasuk gaji selama 5 bulan bekerja.

Siti pun tiba di Karangreja terbaring di rumah orangtua. Namun beberapa bulan kemudian ia mengaku tidak lebih menerima kiriman gaji 3 bulan tidak seperti apa yang dijanjikan oleh sang mantan majikannya di Riyad. Sedangkan biaya untuk pengobatan patah pinggang dan kaki ternyata sama sekali tidak pernah dikirim.

Menurut pengamatan ReALITA Online, kondisi Siti Hodijah cukup memprihatinkan dan sangat membutuhkan biaya untuk berobat. Tetapi kondisi perekonomian Walan sangatlah tidak memungkinkan Siti Hodijah sembuh dari derita penyakit yang membelenggunya.

Siti telah ditinggal cerai oleh suami yang mendorong minatnya menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Maklum, kalau Walan sangat berharap kepedulian Pemerintah Desa Karangreja akan kondisi anaknya berkenan memfasilitasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Provisni Jawa Barat.

”Kami sudah pasrah kepada Allah akan nasib Siti. Saya tidak punya apa-apa mau dijual untuk membiayai pengobatannya,” keluh Walan sedih.

Syamsudin anggota Porwada PJTKI yang pernah diminta bantuan oleh Walan sangat prihatan akan kondisi Siti Hodijah bahkan menyesalkan sikap PT AHPM yang tidak pernah peduli. Dia pun berharap kepada Pemkab Bekasi dalam hal ini Disnaker supaya bersedia memfasilitasi Siti ke BNP2TKI di Departemen Tenaga Kerja di Jakarta, ”Kemampuan keluarga Siti sangat tidak memungkinkan memperjuangkannya” tegas dia. ust Syam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar