KUDUS, ReALITA Online — Berdakwah tidak harus di atas panggung, tetapi juga bisa dilakukan lewat seni kaligrafi. Setidaknya ini yang dilakukan Muhammad Asiri. Sejak tiga tahun silam, dia mendirikan pesantren seni kaligrafi Al Funun Al Jamilah di Kudus, Jawa Tengah. "Dengan kuas, dengan tulisan, tapi pesan-pesannya lebih mengena karena diambil dari Alquran bahkan hadis," kata Asiri, baru-baru ini.
Sekadar informasi, kaligrafi berasal dari bahasa latin yang berarti tulisan indah. Biasanya ditulis dengan huruf hijaiyah, bangsa Arab menyebutnya hot.
Pria 31 tahun ini membuat sendiri kurikulum di pesantrennya yang dibagi per semester dengan masa studi dua tahun. "Semester satu diajarkan khat naskhi dan tsulus. Kemudian, semester dua diajarkan non naskhi, tsulus, diwani, riqah, farisi, kufi, diwani jali," ucap Asiri. "Kalau semester tiga nanti masuknya ke seni murni dan semester empat."
Materi ajarnya berupa kaligrafi dekorasi dan mushaf, kaligrafi masjid, seni lukis, seni pahat, seni patung, serta seni airbrush.
Sebagian besar santri datang dari luar Jawa. Mereka cukup membayar Rp 1,5 juta hingga lulus. Dalam tiga bulan, para santri sudah bisa praktik ke lapangan. Put, liputan6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar