Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Kamis, 09 September 2010

Inilah Jawaban Adjie Suradji, Kenapa Dia Mengkritik SBY?

JAKARTA, ReALITA OnlineArtikel Kolonel Penerbang Adjie Suradji yang dimuat di halaman Opini harian Kompas, Senin (6/9/2010), bertajuk "Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan" membuat institusi TNI kebakaran jenggot. Sikap Adjie yang mengkritik secara terbuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang notabene adalah Panglima Tertinggi TNI, dianggap melanggar kepatutan seorang prajurit.

Kenapa Adji mengkritik pucuk pimpinannya? "Karena saya gelisah mendengar banyak keluhan rakyat. Saya juga mengamati dinamika di DPR. Sudah lima tahun saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Saya membaca, mendengar, dan melihat. Kegelisahan itulah yang mendorong saya menulis," jawab Adji seperti dikutip Kompas.com, Selasa (7/9).

Dalam tulisannya, Adjie menggugat keberanian Presiden Yudhoyono melakukan perubahan di negeri ini. Dalam salah satu bagian artikelnya, ia menulis, "Apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?"

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Bambang Samoedro, dalam surat pembaca di harian Kompas, Selasa, menyampaikan, tulisan Adjie merupakan pendapat pribadi, bukan pendapat institusi TNI Angkatan Udara.

Adjie mengaku telah mendapat hukuman atas perkara korupsi yang didakwakan kepadanya. Ia tidak mau menjelaskan lebih jauh soal perkara yang dihadapinya. "Tanya saja kepada Kadispen, korupsinya Pak Suradji di mana?" katanya.

Karena perkara ini, meski masih perwira aktif, ia tidak mendapat jabatan. Oleh karena itu, sudah lima tahun ini ia tidak pergi ke kantor. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan membaca dan menulis.

Tahun 2005 ia telah menelurkan satu buku berjudul Terorisme yang diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan. Ia masih menyimpan empat draf buku lagi yang siap diterbitkan. "Saya senang membaca. Buku saya banyak. Saya mempunyai perpustakaan pribadi di rumah," katanya. kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar