
Sabtu, 18 September 2010
Istri Hamil, Suami Jangan Bengong

ReALITA Online — Ketika seorang ibu mengandung, benarkah hanya sang ibu yang bertanggung jawab kelangsungan hidup sang janin? Tentu tidak. Allah telah menentukan keberadaan nyawa sang janin atas usaha ibu dan ayahnya. Allah menitipkan amanat yang sangat berat itu kepada mereka berdua. Sayangnya, lebih banyak sang ayah kurang menyadari tanggung jawabnya selama kurun waktu kehamilan. Penyebab utama, karena mereka tak mengalami beban secara langsung.
Jadilah selama sembilan bulan dalam kandungan ibu, sebenarnya secara psikologis, janin lebih banyak yatim. Karena tak mendapat perhatian ayahnya. Setelah bayi terlahir, dapat dilihat mata, dipeluk dan dicium, baru tumbuh kesadaran suami bahwa ia seorang ayah. Sungguh, sebuah kesadaran yang terlambat. Yang rugi bukan saja si janin, tapi juga ayahnya. Berikut di antara kewajiban ayah terhadap calon bayinya.
Kebutuhan Fisik
Orang tua tak boleh meremehkan faktor pemenuhan kebutuhan fisik janin. Pertumbuhan sel-sel otak, kualitas pertumbuhan badan serta tulang, sudah mulai ditentukan semenjak masa janin. Jangan sampai orang tua menyesal kemudian, saat menemui rendahnya kualitas pertumbuhan bayinya gara-gara lalai mempertahankan kebutuhan gizi di masa ini.
Secara kuantitas saja, ibu perlu makan lebih banyak dari biasanya untuk disubsidikan kepada janin dalam rahim. Belum lagi masalah kualitas, di mana makanan yang masuk harus cukup kandungan protein, vitamin, serta zat-zat gizi lainnya. Kewajiban ayahlah untuk menyediakan semua kebutuhan tersebut demi pertumbuhan janin tersebut.
Ayah harus rela memberikan kebutuhan ini, walau itu berarti ia harus menyediakan makanan berkualitas bagi istrinya dua kali lebih banyak dari biasanya. Ayah yang bijaksana akan rajin mengontrol pola makan ibu hamil, menyediakan makanan ekstra berkualitas dan memberikan motivasi kepada istrinya untuk rajin mengkonsumsi makanan-makanan bergizi.
Kasih Sayang dan Perhatian
Penelitian membuktikan, janin dalam kandungan sudah bisa merasakan sentuhan kasih sayang orang tua yang mengelus perut bundanya. Ia pun dapat menikmati suara lembut penuh kasih yang diperdengarkan orang tuanya di dekat perut ibu.
Sentuhan kasih sayang dari ibu sudah cukup memenuhi kebutuhan kasih sayang bagi si janin. Namun penting diingat, untuk bisa memberikan perhatian dan kasih sayang penuh kepada janinnya, si ibu membutuhkan suasana kejiwaan yang tenang dan bahagia. Ibu yang tertekan dan stres, tak akan bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya secara optimal kepada janin. Di sinilah suami akan mengambil peran besar turut menjaga kesehatan kejiwaan istri agar tetap stabil, tenang dan bahagia.
Hal lain yang penting diingat, dalam proses kehamilan terjadi perubahan kadar hormon yang bisa memberikan pengaruh besar pada kebanyakan wanita hamil, di mana emosi mereka menjadi lebih labil. Ditambah lagi beban fisik yang tak ringan, wajar jika mereka lebih banyak membutuhkan perhatian dibanding sebelum hamil. Begitu beratnya beban yang harus ditanggung ibu hamil, sampai Allah berkenan memfirmankannya dalam kitab suci al-Qur'an,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar