Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Jumat, 03 September 2010

Rapiah TKI Asal Karawang Tak Jelas Rimbanya

KARAWANG, ReALITA Online – Rapiah Binti Sudinta hampir 3,5 tahun tidak ada kabar kepada ayah dan ibunya sejak menjadi TKI di Arab Saudi. Bahkan akibat keberadaannya tidak jelas Edi kakak kandung sampai meninggal akibat memikirkan nasib Rapiah.

SUDINTA ayah kandung Rapiah sangat menyesalkan H Dodi yang kurang peduli selaku sponsor PT Markoria Putra (PT MP) Penggerak Jaringan Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang merekrut Rapiah.

Sudinta warga Dusun Jati Rt.01,Rw.01 Desa Kutamakmur, Kec Tirtajaya, Kab.Karawang, Jabar, kini menjadi sakit-sakitan karena belum mengetahui secara pasti nasib anaknya itu.Karena itu, dia dan Amah istrinya sangat mengharapkan peran H Dodi lebih pro aktif mencari tahu bagaimana nasib Rapiah sebenarnya.

Rapiah yang merekrut adalah H Dodi kemudian menyerahkan ke PT MP tiga tahun lalu untuk dikirim ke Arab Saudi menjadi Tenaga Kerja Wanita alias pembantu. Namun, seperti apa nasib sang TKI/TKW itu di negara asing itulah penyebab kedua orag tua menjadi tidak tenang. Bahkan Edi salah satu dari kakak Rapiah sampai meninggal dunia.

Ust Syamudin yang pernah diminta bantuannya oleh Sudinta mencarikan putrinya itu mengungkapkan, kedua orangtua dan keluarga Rapiah memang tergolong awam dan ekonomi lemah. Sehingga tidak dapat berbuat apa-apa selain merenung memikirkan nasib anaknya itu, bahkan sampai sakit-sakitan.

Dia menjelaskan, semua kesediaan Rapiah untuk jadi TKI tidak lebih untuk memperbaiki hidup kedua orangtuanya. Jangan heran, tegas dia, kalau sejak keberangkatan Rapiah ke Arab Saudi kedua orangtuanya itu dan juga saudara-saudarnya dalam benak mereka tidak pernah terpikirkan akan terjadi demikian.

Karena itu, Syamsudin pun sangat menyesalkan pihak sponsor yang tampak seolah kurang peduli kepada keluarga Rapiah yang tengah pusing tujuh keliling akan nasib Rapiah. “Saya ragu kebenaran Rapiah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Karena sampai hari ini tidak ada kabar yang pasti keberadaannya di mana sebenarnya,” ujarnya.

Dia mengkhawatirkan jangan-jangan wanita yang tidak tamat sekolah dasar itu TKI ilegal di Arab Saudi. Sebab menurutnya, setiap TKI yang mempunyai majikan biasanya pasti memberikan kabar kepada keluarga.”Setidaknya mengirim surat kepada ayah dan ibu,” tegas dia.

“H Dodi selaku sponsor tidak bisa lepas tangan begitu saja. Setidaknya ia berusaha menemui perusahaan yang memberangkatkan Rapiah untuk mencari tahu secara pasti berada di negara mana,” papar Sayamsudin prihatin.

Tampaknya, Sudinta bertambah panik dikarenakan di antara sesama TKI dari Desa Kutamakmur sudah memberi kabar bahkan mengirim gaji kepada keluarga. “Inilah yang membuat Sudinta dan Amah sedih mengapa lantas Rapiah tidak demikian,” tegasnya.

Kabupaten Karawang adalah salah satu daerah asal TKI terbesar di Provinsi Jawa Barat. Peristiwa yang menimpa TKI, mulai dari meninggal dunia, disiksa dan tidak jelas rimbanya, juga terbanyak menimpa TKI dari daerah ini.

Hasil penelusuran ReALITA Online di beberapa kecamatan dan desa, tidak sedikit masyarakat yang mengkeluhkan nasib anak-anaknya yang menjadi TKI. Bahkan keluhan yang sama jumlahnya lebih banyak tidak mendapat berita sampai bertahun-tahun lamanya. Yang paling memprihatinkan lagi, tingkat pendidikan TKI mayoritas hanya sekolah dasar dan sebagian besar tidak lulus serta keluarga ekonomi lemah. Jadi bisa dibayangkan, seperti apa TKI yang bekerja di negara asing bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya.

Paling ironis, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang, Provinsi Jawa Barat, memiliki Dinas Tenaga Kerja yang berkantor di Jalan Surotokunto Karawang. Tetapi tidak jelas kinerjanya sejauh mana menangani nasib TKI di daerah tersebut.

Begitu juga pemerintah desa sebagai perpanjangan tangan bupati, juga hampir kurang peduli terhadap nasib TKI dari desanya. Padahal diketahui ada warganya berangkat menjadi TKI/TKW ke negeri sampai menahun tidak ada berita yang jelas berada di negera mana.

Biasanya kesibukan para pegawai pelat merah di daerah tersebut baru tampak, setelah muncul berita ada TKI asal Karawang meninggal dan disiksa. Itulah sebabnya, para sponsor bebas gentayangan untuk merekrut calon TKI.

Untuk itu, diharapkan instansi yang membidangi ketenagakerjaan supaya tidak hanya berkutat di seputar industri—termasuk menertibkan sponsor-sponsor supaya ada tanggungjawab. Selain itu, tak sedikit sponsor melakukan trafficking terhadap wanita-wanita di bawah umur direkrut jadi TKW kemudian dikirim ke manca negara. Rapiah bagaimana nasibmu, pulanglah ayah bundamu menanti. syam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar