
KARAWANG, ReALITA Online — Yati Binti Karta Wainan warga Kp Ciampea RT.08, RW.03, Desa Kampungsawah, Kec Jayakerta, Kab. Karawang, Jawa Barat, kini TKI di Riyad Arab Saudi. Dia berharap bagaimana bisa kembali ke
“Kalau emang bpk mau nulg in sy ? Sbenr nya sy kerja sush pulg dan sush gjih sy ga kepikirn lau brapa bln gjih sy di kantor, sy bgung klau bpk bntu sy sgat ber terima kasih,” demikian sms Yati kepada redaksi ReALITA Online, Selasa 7 September 2010.
Pada hari Rabu 8 September 2010 Yati kembali mengirim sms berbunyi: “Pak sbnr nya sy awl smpe skrng, mslh nya sy, kenp ga di pulg kn, dan mslh gjih itu yg sy pikir kn bpk ga mgkin sggup nulg sy apalgi di indo di ryad aja sush org kbri.”
Dalam pembicaraan melalui telepon celuler, Yati mengatakan ia dirental dari rumah ke rumah. Bukan itu saja, gaji selama kerja sering kali dia terima tidak dengan utuh. Dia menyebutkan sembari terisak-isak: ”Saya kerja 5 bulan yang dibayar hanya 3 bulan. Kerja 8 bulan dibayar 3 bulan.”
TKI asal Karawang ini bersumpah nasibnya menjadi tidak menentu karena majikan pertama tempat ia bekerja di Riyad tidak membayar gajinya,”Saya sudah minta supaya dipulangkan tapi tidak ditanggapi. Malah saya direntalkan dari rumah ke rumah,” keluhnya.
Yati putri Karta Wainan ini berangkat ke Riyad pada 20 Pebruari 2008 direkrut Sanijan sebagai calo TKI PJTKI PT Aljubara Nampower Indonesia (PT ANI). Dalam pembicaraan melalui telpon celulernya selama hampir dua tahun ia berada di Riyad tidak pernah menerima utuh gajinya. Bahkan belakangan ini, Yati mengaku sistem kerjanya justru dirental dari satu majikan ke majikan lain.
Paling ironis lagi, ungkap Yati lebihl lanjut, meskipun sudah dirental gaji tidak pernah diterima utuh. “Pihak kantor tidak pernah memberikan gaji saya utuh sesuai dengan lama kerja. Saya mau kembali ke Indonensia karena tidak kuat, tapi saya ga punya uang ongkos pulang,” keluhnya.
Karena diperlakukan tidak seperti apa yang telah dijanjikan PT ANI, diantaranya tidak dibayar gaji oleh majikan pertama, akhirnya Yati keluar bahkan telah melaporkan kejadian yang menimpanya kepada Konsulat Jenderal RI di Riyad. Menurutnya laporannya tidak mendapat tanggapan serius.
Karena itu, dia dengan terpaksa melakoni pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dengan cara dirental. Itu pun penggajiannya sulit diterima dengan utuh.
Karta ayah Yati kepada ReALITA Online menyampaikan harapannya, supaya Yati putrinya dikembalikan ke Desa Kampung Sawah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar