Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Senin, 25 Oktober 2010

BK DPR Lecehkan Martabat Bangsa

JAKARTA, ReALITA Online — Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi menyayangkan kepergian Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat (BK DPR) ke Yunani. Menurut dia, kepergian BK DPR yang bertujuan mempelajari kode etik itu justru merendahkan martabat bangsa.

"Menurut saya mereka menghina diri sendiri, karena sebenarnya kita juga memiliki nilai-nilai luhur," kata J Kristiadi usai diskusi "6 Tahun Pemerintahan SBY dan Wajah Hukum Negeri-Ku" di Jakarta, Minggu 24 Oktober 2010.

"Menurut saya kepergian itu menghina rakyat. Seakan-akan rakyat tidak mengerti apa itu etika. Dan menghina bangsa ini karena bangsa ini sudah punya nilai yang namanya Pancasila itu yang diakui sangat baik, luhur."

Justru, kata dia, kepergian BK DPR ke Yunani itu merupakan perilaku yang menyalahi etika. "Memalukan betul," kata dia.

Dia mengatakan, belajar kode etik itu tidak harus datang jauh-jauh ke luar negeri. BK DPR, kata dia, harusnya memanfaatkan media informasi untuk belajar dengan biaya yang tidak besar. "Jaman sekarang ilmu pengetahuan itu tidak sulit dicari, seperti memungut sampah di jalan," kata dia.

Menurut dia, jika sungguh-sungguh belajar etika, maka tempat yang paling tepat adalah di negeri sendiri. Karena, nilai dan filosofi etika itu justru telah dibukukan di dalam negeri. "Jika mau belajar Pancasila, ada Tap MRP tahun 2001 tentang etika bangsa dan negara. Sejarah Pancasila, filosofi dan segala macam ada di sini [Indonesia]," kata dia.

Dia menambahkan, alasan BK DPR belajar kode etik ke Yunani hanyalah dibuat-buat. Mereka, lanjut dia, hanya mementingkan kepentingannya sendiri. "Mereka ke sana hanya mau senang-senang, tidak ada relevansinya dengan etika," kata dia. VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar