ReALITA Online — Nama Indonesia kembali mencuat setelah unjuk gigi spektakuler di bidang pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan yang kita kenal biopremium. Bahan bakar yang satu ini, memiliki keunggulan yang tidak ditemui pada bahan bakar berbasis minyak. Selain sehat terhadap lingkungan, kandungan alkohol etanolnya bisa mencapai 96-99 %. Biopremium setaraf dengan pertamax keluaran Pertamina. Test drive dilakukan pada mobil-mobil mewah dengan cc besar. Sedikitnya 1.200 kendaraan telah diujikan dan tak ada masalah kerusakan mesin. Uniknya, bahan bakar subtitusi tersebut diambil dari potensi tanaman singkong.
Warga desa Ngadiluwih Kediri, Jawa Timur, dikejutkan seorang petani yang berhasil menemukan singkong raksasa sebagai bahan bakar alternatif. Pak Mukibat, namanya, penemu okulasi batang singkong biasa dengan ketela pohon karet. Penyambungan dilakukan dengan menempelkan mata tunas singkong karet pada batang singkong biasa yang mata tunasnya sudah dibuang. Idealnya, penanaman dilakukan saat musim penghujan. Biasanya dalam jangka waktu 2 minggu, tunas karet itu segera tumbuh. Itulah waktu yang tepat untuk ditanam.
Jika pada singkong biasa menghasilkan 30 ton umbi segar dengan populasi 20.000 tanaman per hektar, singkong Mukibat mampu menghasilkan dua kali lipat mencapai 66 ton umbi dengan populasi tanaman yang lebih hemat sekitar 6.600 tanaman per hektar. Batang okulasi singkong mukibat sendiri dapat dijadikan bibit lagi meskipun hanya produktif pada tahun ke-3 saja.
Sampai sekarang stek okulasi singkong Mukibat tetap memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan. Dengan pengolahan dan pupuk yang sama, singkong Mukibat mampu menghasilkan jumlah yang lebih besar.
Singkong Mukibat VS singkong Darul Hidayah
Barangkali singkong raksasa hasil temuan Abdul Jamil Ridho adalah jenis yang masih langka. Tentu saja saat ditemui di Pameran Otonomi Daerah 2001 lalu di JCC Jakarta. Niti Soedigdo, pengembang tanaman sekaligus orang kepercayaan Abdul Jamil Ridho menceritakan proses rekayasanya mengembangkan singkong raksasa. Dengan bereksperimen selama 3 tahun mengawinkan singkong beracun dengan singkong biasa.
Soedigdo pria berusia 65 tahun ini mengatakan, ongkos tanam singkong unggulan Mukibat masih payah jika dibandingkan denagn singkong yang ia beri nama singkong Darul Hidayah. Perhitungannya bisa dilihat dari hasil panen dalam tiap hektarnya.
Singkong Mukibat bisa menghasilkan 100 ton tiap hektar dengan tingkat kesulitan petani menggali sedalam 1 meter dan resiko penempelan. Kesulitan seperti itu, tidak ditemukan pada singkong “Darul Hidayah”. “Sekali panen, per hektarnya kami dapat 150 ton. Sementara biaya penanamannya cukup 4 juta rupiah per hektar, sudah termasuk bibit dan pupuk selama masa tanam sekitar 8 – 11 bulan. Harga bibit singkong raksasa Darul Hidayah hanya Rp 150 per stek dengan panjang 15 – 20 cm sama dengan 1,5 juta rupiah untuk 1 hektar,” jelas Soedigdo.
Keunggulan Biopremium
Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, selain kualitas yang tak kalah baik dengan yang dihasilkan bensin dari bahan bakar fosil, biopremium ini juga dinilai ekonomis. Harga singkong Rp 400 per kilogram. Itu berarti, satu liter etanol hanya menghabiskan Rp 2.400 ditambah ongkos produksi Rp 1.000. Total harga satu liter etanol singkong menjadi Rp 3.400. Harga ini jauh lebih murah dengan yang ada di pasaran.
Penulis : Andi Prihatna
Editor : Putra
Sumber: manifest majalah ekonomi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar