Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Minggu, 02 Januari 2011

Pedagang terompet musiman merugi

JAKARTA, ReALITA Online — Pedagang terompet asal Batu Jaya, Karawang, mengeluhkan minimnya penghasilan dari penjualan di puncak Malam Tahun Baru 2011 di kawasan mall La Piaza, Kelapa Gading, Jakarta Utara, karena masyarakat lebih suka membeli kembang api produk China.

Pada malam pergantian tahun semalam jalan di sekitar Mall La Piaza, Kelapa Gading dipadati oleh puluhan ribu masyarakat yang menonton pesta kembang api, yang merupakan salah satu dari 10 lokasi pesta kembang api yang diizinkan pihak kepolisian RI.

Di Jakarta, pesta kembang api digelar di sejumlah tempat a.l. di Hotel Mercure Ancol, Putri Duyung Cottage Ancol, Pantai Festival Ancol, Dunia Fantasi Ancol, Pantai Carnaval Ancol, di Mall La Piaza Kelapa Gading, dan di Sumarecon Mall Serpong.

Di luar Jakarta, Polri memberikan izin pesta kembang api di Hotel Brastagi Sumatra Utara dan di Lapangan Dataran Engku Putri Batam Alun-Alun Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat.

Meski puluhan ribuan orang berkumpul di seputar Mall La Piaza, Omas, salah satu pedagang terompet, mengatakan penjualan terompetnya sepi meskipun dia menjajakan terompet dengan bentuk unik seperti naga dan alat tiup saxophone.

“Tahun lalu saya membawa 400 terompet dan hanya sisa sedikit menjelang detik-detik pergantian tahun. Tapi kali ini meski hanya membawa 220 terompet tetap tidak habis terjual,” ungkap Omas yang menjadi pedagang musiman bersama suaminya, Kaman, dan ponakannya, Doni.

Doni mengatakan kali ini dirinya hanya membawa 250 terompet, namun masih tersisa, sehingga masih mencoba bertahan satu hari di Jakarta untuk menghabiskan sisa dagangannya.

“Kalau kami bawa pulang juga barangnya sudah remuk di jalan, jadi biar dihabiskan dengan harga murah. Terompet yang semalam dijualnya Rp10.000 kini hanya Rp2.500,” ujarnya.

Para pedagang terompet di kawasan Kelapa Gading, ujarnya, umumnya berasal dari Karawang, Jawa Barat, dan mereka sudah berada di Jakarta sejak Rabu atau empat hari lalu. Doni dan pedagang musiman lainnya diangkut naik truk dengan tarif Rp 35.000 per orang.

Dia menduga sedikitnya ada 80 pedagang terompet asal Karawang yang berjualan di sekitar Mall La Piaza tempat berlangsungnya Pesta Kembang Api. Ketika datang ke Jakarta mereka diangkut dengan sedikitnya empat truk.

Omas dan Kaman mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp 1,5 juta. Mereka berharap sedikitnya bisa membawa pulang Rp2 juta. Namun, sampai tadi malam penghasilan mereka berdua kurang dari Rp1 juta.

“Kalau dipotong biaya hidup selama di Jakarta untuk makan, kerugian kami lebih besar lagi. Padahal selama tiga malam kami tidur di emperan toko saja dan pakai MCK umum,” tutur Omas.

Penyebab menurunnya rejeki musiman pedagang terompet ini adalah karena masyarakat lebih suka membeli kembang api produksi China dan jenis terompet lainnya yang bukan buatan tangan, karena memiliki suara lebih keras.

1 komentar: