Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Sabtu, 12 November 2011

Kali CBL Hitam Pekat dan Bau

BEKASI, ReALITA Online — Air sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) hitam pekat dan berbau. Warga kesal dan minta Pemkab Bekasi memperhatikan serius karena warga kini tak bisa lagi menggunakan untuk keperluan harian.

Kondisi kali CBL ini sudah banyak dikeluhkan warga karena selain hitam pekat, juga berbau. Mereka khawatir pencemaran itu berdampak kepada air tanah atau juga pertanian di sekitar kali.

“Selain hitam, sampah juga bertebaran. Sekarang tidak lagi bisa untuk mandi warga,” kata Hasin, warga di Muara Bhakti, Babelan.

H. Naryo, satu tokoh di Babelan, mengatakan sudah bosan mengadukan kondisi air CBL yang hitam pekat dan bau itu. Dia juga menyebut sudah dilakukan penelitian oleh Provinsi Jawa Barat. “Dulu katanya dibikin CBL untuk meningkatkan hasil pertanian. Tapi, sekarang, apa?” ujarnya kesal.

Tumupukan sampah dan kondisi air hitam membuat sejumlah warga yang menyeberang dengan eretan menutup hidung.

Di dekat jembatan Muara Bhakti seorang warga dengan menggunakan perahu terlihat mengais sampah yang mengambang di Kali CBL.

Di bagian lain, proyek normalisali kali ini juga tengah dilakukan. Hanya saja, normalisasi dengan menggunakan alat berat hanya mengeruk sungai dan membuat tanggul di sisi sungai.

Tidak Peduli

Komaruddin Ibnu Mikam, aktifis pemuda, mengatakan tercemarnya Kali CBL adalah bentuk ketidakpedulian pemerintah daerah terhadap lingkungan hidupnya. Kalau dulu masyarakat bisa memanfaatkan untuk keperluan harian, untuk mandi, mencuci atau untuk pertanian, sekarang sama-sekali tidak bisa.

“Sekarang hanya menjadi tempat pembuangan limbah,” kata Ketua Pemuda Demokrat Bekasi ini.

Menurutnya bukan saatnya lagi berdebat, yang dibutuhkan adalah langkah nyata. Cari pembuang limbah yang melanggar, lalu beri sanksi. “Jangan jadikan alasan lain wilayah lalu penegakan peraturan tidak bisa. Penerbitan izin juga harus melihat fakta di lapangan,” ujarnya.

Komarudin juga menyebut adanya kawasan industri di selatan, lalu limbahnya mengarah ke utara, maka hancurlah infrastruktur air dan tanahnya.

Rony Harjanto, Kepala BPLHD Kabupaten Bekasi yang akan dikonfirmasi tidak bisa dihubungi. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas. poskota

Tidak ada komentar:

Posting Komentar