JAKARTA, ReALITA Online — Dalam aksi di depan kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) beberapa hari lalu, puluhan mahasiswa melakukan aksi pelemparan tinja dan air seni kepada aparat. Aksi dipicu kekesalan massa atas tindakan polisi membubarkan aksi. Mantan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol (Purn) Nugroho Djajusman meminta agar mahasiswa dapat menghargai anggota kepolisian.
"Ini adalah hal yang wajar, demo diatur dalam undang-undang, tentunya dalam undang-undang diatur cara-caranya, tidak anarki dan polisi itu memang tugasnya mengamankan. Jadi hargai jugalah anggota Kepolisian," kata Nugroho, Sabtu (12/11/2011).
Ia juga meminta agar peran dari dosen atau orangtua dapat mengingatkan anaknya agar dapat menyampaikan pendapat secara elegan. "Sampaikan aspirasi dengan baik mau berapa ribu batas aturan ketertiban dijaga, jangan sampai anarki, hal yang wajar, suatu kehidupan demokrasi," ujarnya.
Demonstrasi, lanjutnya, merupakan cermin demokrasi namun bukan berarti kita melakukan perbuatan yang justru menimbulkan pelanggaran. "Ya itu emang, bagian dari semangat, tapi jangan sampai menggangu ketertiban masyarakat," ucap calon gubernur DKI ini.
Kalau dirasa memang suatu demonstrasi itu menggangu kepentingan masyarakat luas, maka tak ada salahnya dibubarkan polisi. "Itu kewajiban polisi, bertanggungjawab atas ke tertiban masyarakat," tukasnya.
Mantan Aktivis 98 Kecam Aksi Lempar Tinja ke Aparat
Mantan aktivis 1998 Sri Gunawan mengecam aksi demo sejumlah mahasiswa di Jakarta yang meminta SBY-Boediono turun, namun dengan cara melempar kotoran manusia.
Menurutnya, aksi mahasiswa itu sangat tidak mencerminkan budaya kaum terpelajar dan membuat masyarakat semakin tidak simpati dengan gerakan mahasiswa. "Aksi mahasiswa itu sangat menjijikan dan tidak mencerminkan budaya kaum terpelajar," ujarnya, seperti dikutip okezone, Rabu (9/11/2011).
Aksi melempar air seni dan kotoran manusia ini terjadi saat puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya jaringan kampus (Jarkam) berdemo di depan kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Mereka mengaku berasal dari beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Bung Karno (UBK), UKI, dan Universitas Satya Negara Indonesia (USNI).
Ditambahkan Gunawan, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbangkan rezim SBY-Boediono yang dapat menarik simpati masyarakat untuk turun bersama gerakan mahasiswa.
"Kami mantan aktivis 98 setuju SBY-Boediono diturunkan. Tapi kami menolak caranya," terang Ketua Ikatan Alumni Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) Jakarta ini.
Apalagi, mahasiswa yang melakukan aksi itu adalah para juniornya di kampus. "Terus terang saya malu melihat aksi mahasiswa sekarang. Bikin malu gerakan mahasiswa saja," ungkapnya.
Secara historis, tambah Gunawan, USNI memiliki peran yang cukup besar dalam gerakan reformasi 1998. Kampus ini pernah menampung 10 ribu petani se-Jawa Barat.
"Gerakan kita dulu cukup besar. Sekali keluar kita bisa mencapai 10 bus. Tidak seperti sekarang, dikejar satu polisi saja sudah kocar-kacir," jelasnya.
Kecaman serupa datang dari Rektor USNI Lijan Sinambela. Bahkan, Lijan mengaku akan segera memanggil nama-nama mahasiswa yang melakukan aksi tersebut. "Kami akan panggil siapa-siapa saja yang melakukan aksi lempar kotoran itu. Bikin malu saja," tandasnya. Okezone
Tidak ada komentar:
Posting Komentar