Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Senin, 30 Januari 2012

Akibat Pendangkalan dan Penyempitan Sungai, Ratusan Ha Sawah Terendam


sawah terendam banjir
SUBANG, REALITA Online — Ratusan bahkan sekitar seribu hektare sawah di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang hingga kini masih terendam banjir luapan sungai. Akibatnya tidak sedikit petani yang harus tanam ulang karena tanamannya terendam lebih dari 2 hari dan ada juga yang belum ditanam akhirnya mubazir.
Hasil pemantauan, Minggu (29/1), sawah yang terendam berada di Desa Tanjung Tiga, Desa Muara, Desa Langensari, Desa Jayamukti, Desa Rawa Mekar serta Desa Rawameneng. Menurut warga, penyebab terendamnya ribuan hektare sawah tersebut, selain tingginya curah hujan, juga disebabkan sejumlah saluran yang melintasi sejumlah persawahan di wilayah tersebut dangkal dan menyempit di daerah hilir.
"Saya bingung karena lahan sawah menjadi lautan, padahal 3 hari lalu siap tanam," ungkap Wandi (45), petani penggarap sawah di Blok Jajahan, Desa Rawameneng. Banjir ini terjadi setiap tahun, namun hingga kini belum ada solusi yang baik dari pemerintah.
Kades Rawameneng, H. Adik L.F. Solihin menyebutkan, sawah yang terendam mencapai 150 hektare, mulai dari sawah Blok Jajahan dan sebagian sawah Blok Tegal Tangkil. Hal ini disebabkan pendangkalan saluran pembuang di hilir dan pihaknya hingga kini kesulitan mengatasi persoalan tersebut.
"Persoalan sawah yang selalu terkena banjir ini telah berkali-kali diusulkan pada musrenbangdes maupun musrenbangcam, bahkan diusulkan ke sejumlah instansi, namun belum membuahkan hasil," katanya.
Kepala Desa Tanjung Tiga, Darlam mengatakan, sekitar 350 hektare sawah di Blok Suka Baru, Blok Suka Tani, Blok Tanjung Tiga, dan sebagian Blok Sumur Sapi setiap tahun terendam air sehingga tidak bisa ditanami padi.
Menurut H. Karya Zakaria, warga pesisir, selain kerap dilanda banjir, ratusan nelayan juga memilih menambatkan perahunya daripada melaut. "Di Blanakan ini cukup banyak nelayan yang berhenti bekerja akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi, karena mereka rata-rata menggunakan perahu kecil dan takut melaut," ujarnya.
Untuk mengisi waktu luang, sehari- harinya para nelayan itu memperbaiki mesin dan peralatan menangkap ikan.
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Subang, H. Karya Zakaria yang juga warga setempat, merasa prihantin karena banjir bukan saja diakibatkan curah hujan tinggi, tetapi juga akibat banyaknya sungai yang dangkal dan menyempit.
"Jadi saya berharap pemerintah daerah, provinsi maupun pusat, melaksanakan programnya tahun ini. Sebab bila tidak, hal serupa akan terus berulang sehingga kerugian bukan saja menimpa petani, tapi juga pemerintah, karena pengadaan beras terhambat," katanya di Kota Kecamatan Blanakan, Subang, Minggu (29/1).  GM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar