![]() |
| Sungai Citarum dilihat dari udara |
KARAWANG, ReALITA Online —
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto menyatakan, pihaknya telah
menyiapkan anggaran Rp 1,3 triliun untuk menormalisasi aliran Sungai Citarum.
Sebagain dana tersebut bahkan telah digunakan untuk mengeruk endapan lumpur di
sejumlah titik Citarum.
Djoko
mengatakan hal itu di sela-sela acara Puncak Peringatan Hari Air Dunia ke-20
yang dipusatkan di sekitar Danau Cipule, Kecamatan Ciampel, Karawang, Sabtu
(12/5/12). Hadir dalam acara tersebut Direktur Jendral Sarana dan Prasarana
Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian RI, Sumarjo Gatot Irianto, Bupati
Karawang Ade Swara, sejumlah aktivis lingkungan hidup, serta para pejabat dari
pusat maupun daerah.
Menurut
Djoko, saat ini sejumlah sungai di Indonesia, khususnya di Jawa Barat mengalami
sedimentasi cukup parah. Akibatnya, aliran air dari hulu ke hilir kerap
terhambat.
Hal
itu kerap menimbulkan masalah seperti banjir pada musim hujan dan kekeringan
ketika musim kemarau. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan sumber daya air
yang baik, yakni dengan melakukan pengerukan sungai dan membuat tempat
penampungan air, seperti waduk, situ atau embung.
Dikatakan
juga, saat ini dunia sedang menghadapi krisis air, energi dan makanan. Krisis
energi dan air dipengaruhi oleh ketidakpastian iklim dan perubahan iklim
global. Kondisi tersebut, lanjut Djoko diperparah oleh semakin meningkatnya
kebutuhan air. Sementara pengelolaan sumber daya air belum dilakukan secara
efektif dan efisien.
“Dari
data yang ada laju penggunaan air lebih besar dari pertumbuhan penduduk. Rata-rata
warga Indonesia tidak bisa berhemat dalam menggunakan air,” kata Djoko lebih
lanjut.
Padahal,
sambung dia, air merupakan kebutuhan mendasar bagi makhluk hidup. Bahkan, lebih
dari 65% unsur tubuh manusia terdiri dari air sebagai penunjang kelangsungan
fungsi tubuh.
”Atas
dasar itu, marilah kita kelola seumbar daya air dengan baik agar kelestarian
air bisa diwariskan kepada anak dan cucu-cucu kita,” kata Djoko.
Ditempat
yang sama, Dirjen PSP kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto mengatakan,
saat ini saluran irigasi yang rusak secara nasional mencapai 52 persen. Kendati
dilakukan perbaikan, namun jumlah kerusakan irigasi itu tak kunjung menyusut.
Atas
dasar itu, Sumarjo mengajak para petani untuk bisa menggunakan air irigasi
seefesian mungkin. Pasalnya, sekarang ini masih banyak petani yang belum bisa
memanfaatkan air secara optimal.
Contoh
kasus tersebut, lanjut Sumarjo, terjadi di Kabupaten Bekasi.”Saya melihat air sudah
dikocorkan selama satu bulan, namun para petani di daerah itu belum juga
melakukan cocok tanam. Saya harap hal itu tidak terulang di masa mendatang,”
kata dia.
Dikatakan
juga, para petani hendaknya mampu mengkonversi air yang jumlahnya terbatas
menjadi bulir gabah dan beras. Dengan demikian, ketahanan pangan di Indonesia
bakal terpelihara. PRLM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar