Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Kamis, 31 Mei 2012

Imun Munandar: “Pemerintah Harus Beli Rumah Djiaw Kie Siong Karena Bersejarah”


Imun Munandar
RENGASDENGKLOK, ReALITA Online — Imun Munandar (55) putra Kalangsari, Kecamatan Rengasdengkolok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, adalah pemrakarsa gerakan pengumpulan koin Rp.1000 untuk biaya membeli 
rumah milik Djiaw Kie Siong yang terletak di Kampung Kalijaya, Desa Rengasdengklok Selatan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Walaupun koin belum sepenuhnya terkumpul namun gerakan Imun mendapat sambutan positif dari Bupati Purwakarta yan telah mengeluarkan biaya untuk membangun pagar dan gapura rumah tersebut. Apa yang mendorong hati Imun untuk melakukan pengumpulan koin Rp.1000, Tabloid ReALITA mewawancarai Ketua PAC PDIP Rengasdengklok itu, berikut ini petikan wawancaranya:
Apa yang mendorong hati dan pikiran Anda untuk mengumpulkan koin Rp.1000?
Sebagai pencinta sejarah, saya atas nama anak bangsa melakukan gerakan mengumpulkan koin Rp.1000 sebanyak-banyaknya. Koin itu nantinya saya gunakan untuk membeli rumah milik Djiaw Kie Siong karena rumah itu adalah rumah bersejarah. Bung Karno-Hatta diculik pasukan PETA yang disebut drama sehari diungsikan ke rumah Djiaw Kie Siong.
Hampir 66 tahun rumah bersejarah itu tak kunjung dibeli pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Karawang, sehingga menyulitkan anak-anak Djiaw Kie Siong atas rumah bersejarah itu. Koh Yayang selaku putra kandung hingga saat ini di Jakarta hidup sederhana dan tinggal di sebuah rumah kontrakan. Sebab kalau dia tinggal di rumah bersejarah mengganggu orang yang datang berkunjung. Lantas mengapa pemerintah tidak peduli sementara rumah harus dikosongkan.
Apakah Anda yakin dari hasil pengumpulan koin Rp.1000 mampu membeli rumah bersejarah tersebut?
Gerakan mengumpulkan koin sudah tidak berlanjut dan yang sudah sempat terkumpul masih ada dalam kotak dan kami simpan di rumah bersejarah. Sampai hari ini kotak itu belum dibuka, sebab Pemerintah Kabupaten Karawang telah menyanggupi akan membeli rumah bersejarah itu yang dananya bersumber dari perubahan anggaran 2012. Saya tetap menagih janji tersebut setelah perubahan anggaran disahkan DPRD Karawang.
Sikap skeptis sempat muncul bahwa rumah Djiaw Kie Siong hanya sekadar persinggahan kemudian pasukan PETA mendorong Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, jadi bukan tempat membuat teks proklamasi?
Bangsa kita kan paling pintar berdebat walaupun tidak bisa membuktikan fakta yang sebenarnya. Tidak ada alasan yang menyatakan bahwa Rengasdengklok bukan bersejarah. Sebab di  rumah bersejarah itulah sebagai saksi sejarah. Di dalam rumah itu ada kamar dan tempat tidur Bung karno dan Hatta lengkap dengan meja dan kursi.
Bagaimana Bupati Purwakarta H Dedi bisa peduli terhadap rumah bersejarah dan sempat berencana mau membelinya dibandingkan dengan Pemda Karawang?   
Bapak Bupati Dedi hatinya tergugah setelah membaca berita di media cetak pemberitaan pengumpulan koin Rp.1000. Beliau adalah pecinta sejarah bahkan berencana membeli rumah bersejarah tersebut. Namun dikarenakan Pemda Karawang akan membelinya yang anggarannya bersumber dari perubahan anggaran 2012, akhirnya pa Dedi menunda pembelian rumah bersejarah itu.
Biaya pembangunan pagar dan gapura rumah bersejarah sebesar Rp.79 juta, Anda peroleh dari siapa?   
Dana sebesar Rp.79 juta saya peroleh dari bapak Bupati Dedi. Beliau spontan memberikan setelah mensurvey lokasi rumah bersejarah yang membaur dengan pemukiman penduduk sekitar. Jadi bukan saya yang meminta, melainkan spontan memberikan sebagai kepeduliannya terhadap kondisi rumah bersejarah. Mestinya para pejabat hingga Bupati Kabupaten Karawang pantasnya peduli dan punya muka, mengapa Bupati Purwakarta begitu peduli sementara Pemerintah setempat terkesan kurang peduli keberadaan rumah bersejarah. Jangankan rumah bersejarah, pembangunan tugu Rengasdengklok sampai sekarang masih terkatung-katung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar