BEKASI,
ReALITA Online —
Tingginya angka komuter warga yang tinggal di Kota Bekasi tapi beraktivitas di
Jakarta, menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bekasi jelang Pemilukada 16
Desember mendatang. Angkanya mencapai 60 persen dari total jumlah penduduk 2,4
juta jiwa, dianggap menjadi salah satu penyumbang potensial golput.
"Kami
khawatir kalau hari kerja mereka di Jakarta, tapi kalau libur di tempat
rekreasi seperti Bandung. Kami imbau mereka berpartisipasi dalam Pilkada,
karena suara mereka sangat menentukan Kota Bekasi lima tahun mendatang,"
ujar Walikota Bekasi,
Rahmat Effendi, usai launching Pemilukada Kota Bekasi, di Balai Patriot Bekasi, Senin 21 Mei 2012.
Rahmat Effendi, usai launching Pemilukada Kota Bekasi, di Balai Patriot Bekasi, Senin 21 Mei 2012.
Agar komuter
bersedia memberikan suaranya, Rahmat meminta Komisi Pemilihan Umum Bekasi bisa
bekerja maksimal melakukan sosialisasi. "Bukan hanya KPU, tapi kami harap
semua pihak ikut melakukan sosialisasi tentang pentingnya Pilkada,"
katanya.
Terkait dengan
Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilukada (DP4), Rahmat berharap angkanya
sudah bisa diserahkan oleh Dinas Kependudukan Kota Bekasi pada Juni esok.
"Paling
pas angkanya diambil dari progres finalisasi e-KTP. Kan proses e-KTP sudah
diperpanjang 4 bulan ke depan. Dari 80-90 persen proses e-KTP, sudah bisa
diambil jadi DP4. Sekitar Juni sudah bisa diketahui angkanya," jelas
Rahmat.
Rahmat
mendesak aparat Kelurahan dan Kecamatan bisa fokus untuk menyelesaikan program
e-KTP. "Kalau bisa sebelum Agustus semua sudah b
Angka DP4 yang
sudah diserahkan nantinya akan kembali diverifikasi untuk menjadi Daftar
Pemilih Tetap (DPT). "Pilkada lalu DPT 1,1 juta, tahun ini perkiraan
mencapai 1,6 juta. 75 persen kami targetkan bisa memberikan suaranya di
Pilkada," kata Rahmat.
KPU Bekasi
sudah menganggarkan dana sebesar Rp26 miliar dari APBD 2012. "Cukup untuk
satu putaran, termasuk apabila pemilihan harus diulang karena ada
kecurangan," ujar Ketua KPU Kota Bekasi, Tb Hendy Irawan.
Dana sebesar
itu dialokasikan untuk semua hal yang berkaitan dengan proses Pemilukada.
"Terbanyak adalah alokasi untuk honor dan operasional penyelenggara, yang
jumlahnya tujuh orang untuk tiap-tiap TPS. Totalnya ada 4 ribuan TPS,"
katanya.
Bila pemilihan
harus dilakukan dua putaran, KPU sudah melakukan langkah antisipasi. Di
antaranya dengan mengajukan dana dari APBD perubahan sebesar Rp13 miliar.
"Pengajuannya akan
kami buat bulan Agustus ketika sudah masuk jadwal pendaftaran calon. Kalau
ternyata dananya tidak terpakai, ya akan kami kembalikan ke kas daerah,"
terangnya.
VIVAnews

Tidak ada komentar:
Posting Komentar