Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Sabtu, 12 Mei 2012

Dasar Jurang Belum Bisa Dijangkau


pencarian korban jatuhnya pesawat sukhoi
JAKARTA, ReALITA Online — Kondisi medan serta cuaca yang sulit rupanya memang menjadi kendala bagi tim gabungan yang bertugas mengambil tubuh korban penumpang pesawat Sukhoi Superjet 100 yang mengalami kecelakaan Rabu lalu.
Oktora Hartanto, salah satu anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) mengatakan, hingga kini belum ada tim yang berada di titik terbawah lokasi jatuhnya pesawat. "Sudah sampai TKP-nya, tapi kita belum sampai ke titik paling terjauhnya karena sulit banget medannya berbahaya, sangat miring," ujarnya, Sabtu (12/5/2012).
Meski hari ini tim gabungan tersebut telah membawa 17 kantong jenazah, menurut Hartanto masih ada pekerjaan sulit lainnya yang harus dihadapi, yaitu mencari cara teraman untuk memindahkan korban dari sekitar titik jatuhnya pesawat hingga helipad.
"Fokus pencarian sekarang lagi berusaha cari cara yang terbaik buat ngangkat dari TKP paling bawah yang mendekati dasar jurang ke atas untuk bisa dibawa ke helikopter," lanjutnya.
Hartanto menjelaskan, medan yang dihadapi tim di lapangan sangat sulit. Titik paling atas tebing dijadikan tempat untuk helikopter menggantung atau istilah Basarnas yaitu hovering karena tidak mendarat, sementara jenazah yang telah dimasukan ke dalam 17 kantong, rata-rata berada 250 meter dibawahnya, atau di tengah titik teratas hingga dasar jurang. Sedangkan antara titik helikopter hingga dasar jurang berjarak 500 meter dengan kemiringan 80 derajat.
"Kesulitan kedua karena ada runtuhan puing, kalau kita terlalu lama berada di dalam sana berbahaya juga buat tim rescue," lanjutnya.
Mengenai logistik, Hartanto melanjutkan, pihaknya tetap terus memasok logistik bagi sekitar 300 orang yang berada di sekitar titik tersebut. Logistik yang paling dibutuhkan adalah air minum untuk mengantisipasi dehidrasi.  kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar