![]() |
| Anggito Abimanyu |
SLEMAN,
ReALITA Online — Pengamat
Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Anggito Abimanyu menilai pemberian
bantuan langsung tunai (BLT) kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
nilainya tidak perlu terlalu besar.
"Akan
lebih efektif jika subsidi BBM tersebut dialihkan untuk sektor transportasi dan
energi alternatif, sedangkan untuk bantuan langsung tunai nilainya tidak perlu
besar," kata Anggito Abimanyu di Sleman, Rabu (14/3).
Menurut
dia, memang BLT bagi masyarakat kurang mampu pernah berhasil pada 2008, namun
saat itu karena ada kenaikan harga minyak tanah yang banyak dikonsumsi
masyarakat.
"Sekarang
tidak perlu yang sebesar dulu karena saat ini masyarakat kurang mampu sudah
beralih memakai bahan bakar gas untuk rumah tangga atau tidak ada lagi tekanan
terhadap dampak kenaikan harga minyak tanah sehingga faktor kemiskinan sudah
berkurang," katanya.
Ia
mengatakan, untuk saat ini kompensasi terbaik dari kenaikan harga BBM
bersubsidi harusnya lebih besar dialokasikan ke sektor transportasi dan sektor
energi terutama energi alternatif.
"Jika
kenaikan harga BBM ini pemerintah bisa menghemat anggaran sebesar Rp25 triliun
dengan asumsi kenaikan harga Rp1.000, maka untuk BLT cukup untuk sekitar 10
juta orang saja, sisa dananya untuk sektor energi alternatif dan
transportasi," katanya.
Anggito
mengatakan, dirinya menilai kenaikan harga BBM kali ini cukup Rp1.000 per liter
saja, tidak sampai ke Rp1.500 per liter sehingga tekanan dan kebutuhan
kompensasi yang diberikan juga tidak terlalu besar.
"Kondisi
sekarang ini memang perlu ada kenaikan harga BBM karena adanya faktor eksternal
membuat situasi fiskal kita jadi tidak terlalu baik. Selain itu, saat ini
jaraknya sudah terlalu jauh antara harga keekonomian BBM, dengan harga yang
dibayarkan masyarakat yang hanya Rp4.500," katanya. ANT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar