Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Kamis, 29 Maret 2012

Bambang Soesatyo: Mayoritas Anggota FPG Tolak Kenaikan Harga BBM


Bambang Soesatyo
JAKARTA, ReALITA Online — Situasi politik di DPR menjelang voting kenaikan harga BBM kian memanas. Setelah PKS menolak kenaikan harga BBM, kini mayoritas anggota Fraksi Golkar menolak kenaikan harga BBM.
"Sampai detik ini belum ada instruksi atau komando dari Ketum maupun dari markas besar PG di Slipi untuk menerima kenaikan harga BBM. Jujur, sesungguhnya mayoritas anggota FPG dan kader PG seluruh Indonesia tidak setuju kenaikan BBM. Karena itu diyakini akan menyengsarakan rakyat," kata Wakil Bendahara Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3/2012).
Menurut Bambang, tidak sedikit yang mengkhawatirkan juga slogan 'suara golkar suara rakyat' menjadi tidak bermakna. Sehingga upaya merebut hati rakyat melalui berbagai program dan kerja keras turun ke bawah akan sia-sia.
"Secara institusi kita belum memutuskan apakah setuju atau menolak pencabutan pasal 7 ayat 6. UU APBN 2012 yg artinya jika dicabut, pemerintah boleh menaikan harga BBM. Dengan besaran Rp. 1500 per liter sebagaimana tertera dalam opsi 1 yang diajukan Badan Anggaran DPR RI yakni alokasi subsidi BBM Rp 137 T, subsidi listrik Rp 65 T dan cadangan fiskal energi Rp 23 T dengan kompensasi BLSM Rp 150 ribu/bulan unruk 18,5 juta KK selama 6 bulan," kata anggota Banggar dari FPG ini.
Menurut dia, pemerintah masih bisa menggunakan opsi lainnya. Artinya menaikkan harga BBM bukanlah jalan satu-satunya yang harus ditempuh saat ini.
"Bahkan menurut saya pribadi, usulan pemerintah atas kebijakan kenaikan BBM sangat dipaksakan, mengingat kalau hanya sekedar menutup kekurangan subsidi BBM, dari sisa anggaran 2010 yg tdk terpakai Rp 51 T, pemotongan/penghematan belanja K/L 2011 sebesar Rp 18,8 T, pengurangan cost recovery, tambahan pajak dll masih mencukupi tanpa menaikan harga BBM," jelas anggota Komisi III DPR ini.  detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar