![]() |
| demo RSBI |
JAKARTA, ReALITA Online — Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI) dinilai tidak menghasilkan apa-apa kecuali biaya yang
lebih mahal dan kesenjangan antar peserta didik. Jika alasannya untuk
meningkatkan mutu pendidikan, RSBI justru tidak mencerminkan hal itu. Lantaran,
sekolah reguler unggulan tetap akan menjadi unggulan tanpa harus berganti label
menjadi RSBI.
Guru SMAN 13
Jakarta, Retno Listyarti mengatakan, dirinya tidak menemukan hasil yang terlalu
istimewa pada setiap lulusan sekolahnya. Baginya, hasil yang baik bukan
ditentukan pada status RSBI, melainkan semua tergantung pada individu siswa
yang bersangkutan.
"Ada beberapa
siswa yang melanjutkan studi ke Jerman, tapi saya rasa itu bukan karena
RSBI-nya, melainkan karena mereka mampu. Dari jaman saya sekolah juga banyak
yang lanjut ke luar negeri," kata Retno, seusai menjadi saksi dalam sidang
judicial review UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), di Mahkamah
Konstitusi, Jakarta, Selasa (20/3/2012).
Ia melanjutkan, hal
lain yang mencolok dalam RSBI adalah mengenai biaya. Dari tahun ke tahun tren
kenaikan biaya di RSBI selalu meningkat. Dijelaskannya, di era dirinya menjadi
siswi SMAN 13, biaya perbulan hanya Rp 5 ribu. Kemudian menjadi Rp 150 ribu
pada tahun 2000, dan melonjak ke angka Rp 600 ribu per bulan pada tahun ini.
"Biaya naik
tentu wajar, tapi menurut saya naiknya terlalu tinggi, khususnya setelah
sekolah ini menjadi RSBI. Mutunya juga biasa saja, sama seperti jaman saya
sekolah dulu," ujarnya. Ia menegaskan, tanpa perlu di RSBI-kan, sekolahnya
akan tetap unggul. "Siswa pandai itu ibarat mutiara, ditaruh dimana pun
warnanya akan tetap cemerlang. Tidak harus di RSBI," pungkasnya.
Ditemui bersamaan,
pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Soedijarto mengungkapkan
hal senada. Baginya, kurikulum dalam RSBI tidak membawa pengaruh banyak pada
peningkatan mutu. Karena pada dasarnya setiap siswa cerdas dapat berkembang di
sekolah apapun, dengan catatan ada perhatian khusus khususnya dari pemerintah,
dan bukan sekadar memaksakan semua siswa cerdas ke RSBI.
"Saya pikir
itu hanya soal kemauan, RSBI tidak menjamin apapun, kecuali jurang antara si
miskin dan si kaya," pungkasnya. kompas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar