JAKARTA, ReALITA
Online — Dipojokkan
dengan isu baju koko, popularitas Joko Widodo alias Jokowi bukannya meredup,
sebaliknya justru melambung tinggi, jauh melampaui Fauzi Bowo alias Foke.
Bayangkan saja,
Jokowi enam kali lipat lebih populer dibandingkan dengan Foke, setidaknya di
situs jejaring sosial Facebook! Di Facebook, pasangan Jokowi-Ahok memperoleh
penggemar sebanyak 18.712 lewat akun Facebook kampanye beralamat di www.facebook.com/Jokowi.Basuki.
Bandingkan saja
dengan penggemar pasangan cagub Foke-Nara yang "cuma" mendapatkan
fans sebanyak 2.862 (www.facebook.com/bangfauzibowo).
Foke-Nara bahkan
tidak lebih baik dari Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini yang meraup dukungan
8.214 penggemar di akun Facebook kampanye mereka, yakni www.facebook.com/HidayatDidik
Bahkan, Foke juga
lebih sedikit angka dukungannya dibandingkan dengan pasangan Faisal Basri-Biem
Benyamin yang meraup 4.040 fans lewat akun Facebook kampanye mereka di www.facebook.com/faisalbiem.
Sementara yang
mengidolakan cagub independen lainnya, yakni Hendardji Soepanji, sebanyak 425 facebookers,
di akun kampanye www.facebook.com/bangadji.
Sementara pasangan
Alex Noerdin-Nono Sampono menempati posisi juru kunci alias paling buncit
dengan penggemar sebanyak 50 facebookers di akun www.facebook.com/alexnonojkt.
Itulah pantauan Tribunnews
pada Selasa (24/4/2012) siang ini di masing-masing akun Facebook pasangan calon
penguasa nomor 1 Jakarta itu.
"Semakin
Dijelek-jelekkan, Jokowi Semakin Populer", demikian judul tulisan seorang
warga penulis (citizen journalist) bernama Najib Yusuf, mengomentari
lonjakan popularitas Jokowi-Ahok di Facebook ini.
Sekadar kilas
balik, ucapan Wali Kota Solo sekaligus Cagub Jakarta Joko Widodo soal baju koko
itu terlontar secara spontan saat menjawab pertanyaan wartawan Tribunnews.
Senin, 16 April
2012 siang, saat menyambangi markas Tribunnews di kawasan Palmerah
Selatan, Jakarta, Jokowi ngobrol ngalor-ngidul bersama jajaran redaksi Tribunnews,
sekadar bersilaturahim.
Di sela-sela
ngobrol akrab, Jokowi ditanya, "Mengapa Anda pilih baju kotak-kotak? Bukankah
lazimnya jago-jago pilkada biasanya tampil agamis dengan baju koko plus kopiah
di ajang kampanye terbuka ataupun lewat poster-poster?"
Ia pun menjawab
spontan tanpa berpikir panjang, "Ya bosenlah. Semua yang maju ke pilkada
selalu pakai baju koko dan kopiah, biar kelihatan religius."
Ucapan inilah yang
kemudian menuai protes Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Padahal, Jokowi sama
sekali tidak menyebut kata "Betawi" dalam ucapannya.
Budayawan Betawi,
Ridwan Saidi, malah meminta Jokowi tak perlu meminta maaf karena baju koko
sebenarnya tidak identik dengan Betawi, tidak juga identik dengan agama
tertentu. Justru etnis Tionghoa sudah jauh lebih dulu identik dengan model
busana tersebut.
Jokowi memilih baju
kotak-kotak justru biar berbeda sekaligus melawan arus utama. Apalagi baju
kotak-kotak notabene produk dalam negeri murah meriah yang digemari masyarakat
Jakarta.
Jokowi saat itu
menggarisbawahi kalau dirinya tak sudi menggunakan simbol-simbol agama untuk
tujuan politik, termasuk kaitan dirinya melenggang ke bursa calon gubernur
Jakarta. Bagi Jokowi, urusan beribadah cukup antara dirinya dan Sang Khalik. kompas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar