KARAWANG,
ReALITA Online — Sejumlah
warga Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur mengeluhkan kegiatan
eksplorasi sebuah perusahaan rekanan Pertamina yang dilakukan di wilayah mereka
sejak satu pekan terakhir ini.
Pasalnya,
perusahaan itu telah mengurug jalan berlubang dengan tanah, sehingga jalan
menjadi becek saat diguyur hujan dan berdebu ketika cuaca panas.
“Perusahaan
tersebut terkesan asal-asalan dalam meratakan jalan yang menuju lokasi projek
eksplorasi,” ujar seorang warga Dusun Tegalsawah, Kelurahan Plawad, Ridwan
Salim, ketika menyampaikan keluhannya, Minggu (8/4).
Menurut Ridwan,
lokasi eksplorasi tersebut berada di Dusun Panglay, Kelurahan Plawad. Untuk
menuju ke tempat itu, puluhan mobil perusahaan harus menyusuri jalan desa
sepanjang lebih kurang 1,5 Km dengan melewati beberapa dusun di antaranya
adalah Dusun Tegalsawah.
Perusahaan itu,
lanjut Ridwan, telah mengurug jalan desa dengan tanah laladon (gembur-Red),
sehingga jalan desa bukannya bertambah baik, melainkan malah tambah rusak.
Apalagi, setiap hari jalan itu dilalui kendaraan berat menuju lokasi
eksplorasi.
“Warga sangat
terganggu oleh kegiatan itu. Pada saat hujan turun banyak kendaraan yang
tergelincir karena licin. Sebaliknya, ketika cuaca panas, debu menyergap
pemukiman mereka,” ujar Ridwan.
Hal senada
dikatakan warga lainnya Dadan Suhendarsyah. Menurut dia, tindakan rekanan
Pertamina itu sangat tidak profesional dalam mempersiapkan infrastruktur
pendukung kegiatan eksplorasinya.
Seharusnya, kata
Dadan, jalan menuju lokasi diratakan menggunakan material sirtu (pasir dan
batu) bukannya tanah laladon. Dengan cara itu badan jalan bakal bertambah padat
dan lebih kuat saat dilintasi kendaraan berat.
Lebih dari itu,
saat hujan turun, badan jalan tidak becek dan ketika cuaca panas debu yang
muncul tidak akan terlalu banyak. “Saya dan warga lainnya tidak anti terhadap
pembangunan. Namun, rekanan Pertamina itu lebih profesional dalam menjalankan
pekerjaannya,” kata Dadan.
Dikatakan juga,
perusahaan yang ditunjuk Pertamina tentunya merupakan perusahaan besar yang
memiliki modal memadai dalam melaksanakan tugasnya.
Oleh karena itu,
perusahaan itu harus memperhatikan infrastruktur yang juga digunakan sebagai
prasarana eksplorasi. Apalagi infrastruktur itu milik warga dan sebelumnya
telah digunakan untuk kegiatan sehari-hari. “Kami kira harga sirtu tidak
terpaut jauh dengan harga laladon,” kata Dadan.
Dikatakan juga,
seharusnya kontraktor Pertamina bisa memperhitungkan semua aspek, termasuk
faktor cuaca yang akan mempengaruhi kondisi ruas jalan tersebut. “Jika
kontraktor Pertamina tidak segera memperbaiki jalan ini, warga akan mengadukan
hal ini ke DPRD dan bupati,” kata Dadan.
Dikatakan juga,
warga Plawad trauma oleh kegiatan eksplorasi rekanan Pertamina. Pasalnya
kejadian serupa pernah terjadi di Dusun Krajan dan Tegalsawah, tiga tahun
silam.
Waktu itu kendraan
projek pengangkut alat-alat berat telah menimbulkan kehancuran parah di ruas
jalan Lamaran-Tegalsawah. “Setelah projek eksplorasi beres, kontraktor pergi
begitu saja tanpa memperbaiki kerusakan jalan yang ditimbulkannya,” kata Dadan.
PRLM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar