Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Minggu, 08 April 2012

Warga Plawad Keluhkan Kegiatan Eksplorasi


KARAWANG, ReALITA Online — Sejumlah warga Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur mengeluhkan kegiatan eksplorasi sebuah perusahaan rekanan Pertamina yang dilakukan di wilayah mereka sejak satu pekan terakhir ini.
Pasalnya, perusahaan itu telah mengurug jalan berlubang dengan tanah, sehingga jalan menjadi becek saat diguyur hujan dan berdebu ketika cuaca panas.
“Perusahaan tersebut terkesan asal-asalan dalam meratakan jalan yang menuju lokasi projek eksplorasi,” ujar seorang warga Dusun Tegalsawah, Kelurahan Plawad, Ridwan Salim, ketika menyampaikan keluhannya, Minggu (8/4).
Menurut Ridwan, lokasi eksplorasi tersebut berada di Dusun Panglay, Kelurahan Plawad. Untuk menuju ke tempat itu, puluhan mobil perusahaan harus menyusuri jalan desa sepanjang lebih kurang 1,5 Km dengan melewati beberapa dusun di antaranya adalah Dusun Tegalsawah.
Perusahaan itu, lanjut Ridwan, telah mengurug jalan desa dengan tanah laladon (gembur-Red), sehingga jalan desa bukannya bertambah baik, melainkan malah tambah rusak. Apalagi, setiap hari jalan itu dilalui kendaraan berat menuju lokasi eksplorasi.
“Warga sangat terganggu oleh kegiatan itu. Pada saat hujan turun banyak kendaraan yang tergelincir karena licin. Sebaliknya, ketika cuaca panas, debu menyergap pemukiman mereka,” ujar Ridwan.
Hal senada dikatakan warga lainnya Dadan Suhendarsyah. Menurut dia, tindakan rekanan Pertamina itu sangat tidak profesional dalam mempersiapkan infrastruktur pendukung kegiatan eksplorasinya.
Seharusnya, kata Dadan, jalan menuju lokasi diratakan menggunakan material sirtu (pasir dan batu) bukannya tanah laladon. Dengan cara itu badan jalan bakal bertambah padat dan lebih kuat saat dilintasi kendaraan berat.
Lebih dari itu, saat hujan turun, badan jalan tidak becek dan ketika cuaca panas debu yang muncul tidak akan terlalu banyak. “Saya dan warga lainnya tidak anti terhadap pembangunan. Namun, rekanan Pertamina itu lebih profesional dalam menjalankan pekerjaannya,” kata Dadan.
Dikatakan juga, perusahaan yang ditunjuk Pertamina tentunya merupakan perusahaan besar yang memiliki modal memadai dalam melaksanakan tugasnya.
Oleh karena itu, perusahaan itu harus memperhatikan infrastruktur yang juga digunakan sebagai prasarana eksplorasi. Apalagi infrastruktur itu milik warga dan sebelumnya telah digunakan untuk kegiatan sehari-hari. “Kami kira harga sirtu tidak terpaut jauh dengan harga laladon,” kata Dadan.
Dikatakan juga, seharusnya kontraktor Pertamina bisa memperhitungkan semua aspek, termasuk faktor cuaca yang akan mempengaruhi kondisi ruas jalan tersebut. “Jika kontraktor Pertamina tidak segera memperbaiki jalan ini, warga akan mengadukan hal ini ke DPRD dan bupati,” kata Dadan.
Dikatakan juga, warga Plawad trauma oleh kegiatan eksplorasi rekanan Pertamina. Pasalnya kejadian serupa pernah terjadi di Dusun Krajan dan Tegalsawah, tiga tahun silam.
Waktu itu kendraan projek pengangkut alat-alat berat telah menimbulkan kehancuran parah di ruas jalan Lamaran-Tegalsawah. “Setelah projek eksplorasi beres, kontraktor pergi begitu saja tanpa memperbaiki kerusakan jalan yang ditimbulkannya,” kata Dadan. PRLM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar