Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Sabtu, 04 September 2010

Aksi Bule Pengobral Cinta, Polda Metro Tunggu Laporan Korban

JAKARTA, ReALITA Online Polda Metro Jaya kini menunggu laporan korban kasus penipuan oleh pria pengobral cinta, Nigerian Sweetheart Scam. Jika ada laporan yang masuk, polisi berjanji untuk menindaklanjutinya.

"Kalau korban sudah melapor akan ditindaklanjuti, tapi kalau tidak melapor kita tidak bisa membuat apa-apa. Kita bekerja berdasarkan laporan warga," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Boy Rafli Ahmad, di kantornya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (3/9).

Boy mengatakan, pasal penipuan merupakan delik aduan. Maka polisi memerlukan korban untuk memulai suatu penyidikan. "Kita harus perdengarkan dulu apa yang dialami korban, apa yang menjadi kerugiannya," katanya.

Kebanyakan korban tidak ingin melaporkan apa yang dialaminya karena malu. Mereka memilih menyimpan penipuan yang dialaminya dalam-dalam karena menganggap hal itu adalah sesuatu yang memalukan.

Nigerian Sweetheart Scam semula menyasar wanita paruh baya yang kesepian di Eropa barat dan Amerika utara. Namun mereka terus mengembangkan modus mereka. Untuk menyasar korban wanita Asia, mereka menjadikan Malaysia sebagai basis.

Percintaan adalah salah satu penipuan ala Nigerian Scam. Masih ada modus penipuan lainnya, seperti sebagai pengungsi yang menderita, deposito uang yang tertahan dan banyak lagi.

Untuk meyakinkan korban, mereka sering melampirkan sertifikat berstempel dan nomor telepon. Mereka juga sering mengibuli korbannya dengan mengaku sebagai diplomat, pejabat PBB, hingga pangeran sebuah kerajaan.

Vivian Dikuras Rp 3 Miliar

Vivian adalah seorang korban penipu pengobral cinta Nigerian Sweetheart Scam lebih dari Rp 3 miliar akibat termakan rayuan gombal sang penipu. Walaupun Vivian berat untuk membuka kembali kisah yang terjadi pada dirinya tahun 2009. Wanita apes yang tinggal di Jakarta ini mengisahkan,Jumat (3/9), kepada wartawan, tapi dia ingin berbagi agar korban tidak lebih banyak lagi.

"Sebenarnya saya tidak ingin cerita. Tapi saya prihatin karena ternyata masih saja ada yang korban. Semoga dengan mengemuka di media, tidak ada korban lagi," kata Vivian seperti dikutip detik.

Kisah percintaan Vivian terjalin di internet dengan seorang pria yang mengaku bule, sebut saja Brandon namnya. Perkenalan mereka terjadi awal 2009 melalui email. Setelah perkenalan, keduanya terus intens berkomunikasi.

"Dia selalu mengirim kata-kata manis ke aku, rayuannya membuat aku mabuk kepayang. Aku selalu merasa tersanjung saat membaca email-emailnya," papara Vivian.

Singkat cerita, setelah berhubungan selama beberapa bulan, si pria yang mengaku pengusaha kaya raya di Inggris, ingin lebih serius dengan Vivian. Pria yang mengaku anak tunggal dari orang tua yang kaya raya itu ingin menikahi Vivian.

"Aku senang banget waktu dia bilang mau menikahiku. Dia bilang mau mengirimi barang-barang mewah sebagai tanda ikatan bahwa dia mau menikah denganku. Dia juga mau ngirim uang ribuan poundsterling," tutur Vivian.

Vivian yang berbunga-bunga, akhirnya memberitahu kabar bahagia ini kepada kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya pun turut berbinar saat anak gadisnya hendak menikah dengan orang bule.

"Orang tua aku senang banget, mereka tak sabar menunggu kiriman itu datang," kata Vivian mengisahkan.

Suatu hari Vivian mendapat telepon dari seseorang yang mengaku dari perusahaan kurir berkantor di Malaysia. Orang itu mengatakan, ada paket atas nama Vivian yang tersangkut di Malaysia. Paket tidak bisa dikirimkan karena ternyata berisi uang yang sangat banyak sehingga tidak bisa masuk ke Indonesia.

"Aku disuruh ngirim uang kira-kira Rp 50 juta untuk membuat sertifikat antiteroris agar uang itu bisa masuk ke Indonesia dan tidak dicurigai sebagai dana teroris," papar Vivian.

Karena sudah kadung percaya pada 'pacar bulenya', Vivian pun manut saja. Apalagi, Brandon juga meyakinkannya bahwa uang itu memang diperlukan. Lalu Vivi mengirim uang yang diminta dengan harapan paket bisa segera sampai. Ternyata Vivian salah. Setelah uang dikirim lewat Western Union (WU), Vivian kembali ditelepon oleh orang yang sama.

"Dia bilang aku harus ngirim uang lagi karena ternyata uang di paket sangat banyak sehingga perlu pajak. Aku harus ngirim sekitar Rp 100 juta lagi," ujar Vivian.

Vivian kemudian membicarakan hal itu pada keluarganya. Keluarga kemudian menyuruh Vivian mengirim uang tersebut, masih melalu WU. "Jadi aku kirim lagi," kata Vivian.

Apesnya, pengiriman uang Rp 100 juta itu bukan yang terakhir. Vivian masih terus diminta untuk mengirim uang dengan berbagai alasan. Entah kenapa, Vivian terus saja mengirimkan uang yang diminta. Bahkan karena WU menerapkan batasan uang yang bisa dikirim, anggota keluarga Vivian lainnya ikut membantu mengirim uang-uang itu atas nama mereka. "Total-total, saya sudah merugi Rp 3 miliar," ucapnya sedih.

Karena paket makin lama tidak datang juga, ibu Vivian pun mulai curiga. Ia berniat mengambil paket itu sendiri ke Malaysia. Jadilah Vivian dan ibunya terbang ke Malaysia ditemani salah satu kerabat laki-laki.

"Mereka awalnya menolak, tapi karena kita bilang kalau kita bawa uang, akhirnya mereka mau," kata Vivian.

Setelah tiba di Malaysia, Vivian dan ibunya ditemui oleh tiga orang. Dari ketiganya, tidak ada satu pun orang bule atau kulit putih. Begitu melihat orang-orang itu, Vivian baru tersadar jika dirinya kena tipu. Gadis itu pun lalu memutuskan pulang ke Indonesia tanpa membawa kopor yang oleh penipu disebut-sebut penuh uang dan perhiasan.

Vivian tidak melaporkan kasus ini ke polisi, sama dengan perempuan yang lainkarena malu mencuat ke publik. Vivian bersedia sharing karena tidak ingin ada perempuan yang mengalami kasus tragis seperti dirinya. "Pelajaran, jangan percaya dengan orang, setidaknya sebelum ketemu langsung. Komunikasi di internet banyak sekali penipuan," pesan Vivian. Esi, detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar