
ReALITA Online — Arus mudik dan balik selama 1 minggu sebelum dan setelah Idul Fitri, sudah merupakan ritual tahunan. Keutamaan bulan suci Ramadan bagi umat muslim
TIDAK hanya menjadikan 'atmosfir' ibadah begitu khidmat hingga 'menembus' arasy langit lapis tujuh. Tetapi juga mendorong geliat ekonomi yang begitu dahsyat di bumi Nusantara ini.
Masalahnya, apakah dimensi ekonomi mudik menimbulkan dampak pengganda (multiplier) yang berarti bagi ekonomi daerah dan perdesaan? Ataukah mudik hanya fenomena "musiman" sesaat yang menimbulkan arus orang dan barang sedikit melonjak dibanding bulan lain?
Arifin Purwakananta, Direktur Dompet Dhuafa, memperkirakan Rp 80,9 triliun mengalir dari para pemudik saat melakukan mudik. Bila jumlah pemudik mencapai 56% penduduk
Saya coba cek data Bank
Penggunaan RTGS masih mendominasi pembayaran nontunai yang nilai nominalnya mencapai lebih dari 95% dari total nilai transaksi nontunai. Pengguna sistem RTGS paling banyak dilakukan oleh nasabah bank untuk jumlah transaksi dari luar
Di Jawa Tengah yang merupakan salah satu sasaran tujuan mudik, tercatat aliran dana yang menarik. Perkembangan aliran uang kartal pada triwulan II-2010 di wilayah Jawa Tengah (KBI Semarang, KBI Solo, dan KBI Purwokerto) mengalami net inflow (inflow atau aliran uang masuk lebih besar daripada outflow atau aliran uang keluar), dengan jumlah net inflow sebesar Rp 3,29 triliun.
Bila net inflow positif, berarti banyak uang yang masuk ke daerah tersebut. Pada triwulan III dan IV dampak mudik menyebabkan jumlah net inflow akan makin besar.
Data di DKI Jakarta dan Jawa Tengah, ini sekadar perkiraan besarnya aliran dana yang masuk dan ke luar dari suatu daerah. Yang jelas, semua bisnis mulai dari usaha kecil dan menengah (seperti makanan, minuman, pakaian, perlengkapan ibadah, sewa mobil) sampai usaha besar (seperti transportasi, telekomunikasi, kendaraan bermotor, asuransi, perbankan) mengalami lonjakan permintaan sejak awal Ramadan.
Geliat ekonomi tersebut selalu mencapai puncaknya pada akhir Ramadan ketika terjadi aktivitas mudik Lebaran untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman masing-masing. Menurut data Masyarakat Transportasi
Jumlah ini hampir sama dengan total penduduk satu benua
Tidak mengherankan, pada hari Lebaran bisa diperkirakan penduduk kota-kota besar paling hanya didiami oleh sekitar 20%-30% penduduk dibandingkan dengan hari-hari normal.
Fenomena mudik ini adalah buah dari urbanisasi dan aglomerasi ekonomi. Urban bias terjadi dalam proses pembangunan ekonomi
Kota-kota ini menjelma menjadi magnit luar biasa bagi tenaga kerja, industri, jasa, mal, dan perusahaan. Kekuatan sentripetal akibat aglomerasi menyebabkan aktivitas ekonomi terkonsentrasi secara geografis di
Aliran dana yang dibawa para pemudik tentunya bila dialokasikan pada usaha yang produktif yang dapat mempunyai efek pengganda yang luar biasa. Selain dana terserap untuk biaya perjalanan pulang balik, di daerah tujuan pemudik, yang mayoritas perdesaan, dana ikut juga dikucurkan. Dengan adanya mudik tersebut paling tidak ekonomi perdesaan bisa menggeliat sesaat.
Seandainya uang yang harus dipegang oleh masing-masing pemudik rata-rata sekitar 5 juta rupiah, dan jumlah pemudik diasumsikan sekitar 17 juta orang, maka uang yang beredar sudah sekitar Rp 85 triliun. Ini belum termasuk transaksi RTGS. Bayangkan saja, bila para pemudik menyisihkan dana dengan niat untuk zakat, infak, sedekah (ZIS) sebesar minimal Rp 100 ribu per pemudik, maka setidaknya terkumpul Rp 1,7 triliun. Jumlah sebesar ini bisa digunakan untuk mendirikan perusahaan penjaminan kredit daerah (Jamkrida) yang hanya butuh modal awal Rp 50 miliar atau membiayai beasiswa sekian ribu pelajar/mahasiswa.
Besarnya dana yang tersebar dalam masa mudik tidak hanya menggeliatkan ekonomi perdesaan, tetapi juga mendongkrak ekonomi perkotaan. Kenyataan ini disebabkan oleh masa Lebaran, sifat konsumtif masyarakat mengalami kenaikan sehingga laju pengeluarannya dananya bisa memancar ke segala arah.
Untuk membuktikan kesuksesannya hidup di
Sungguh sayang apabila arus dana mudik tidak dimanfaatkan untuk pembangunan daerah. Ataukah memang kita hanya menyaksikan dan menjadi pemudik yang ikut menyumbang kemacetan jalanan? Tujuan berpuasa adalah agar bertakwa (Q.S. 2: 183).
Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit (Q.S. 3: 134). Nah....mari kita manfaatkan momentum mudik sekaligus untuk mengembangkan ekonomi daerah asal kita. Mudrajad Kuncoro, BI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar