Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Jumat, 24 September 2010

Herman: Iyuk harus Tanggungjawab Nasib Nunung

KARAWANG, ReALITA Online — Saya sebagai suami tidak pernah mengijinkan Nunung Binti Parma Bakar berangkat ke Arab Saudi untuk menjadi TKI/TKW. Melainkan Iyuk selaku sponsor membujuk Nunung di luar sepengetahuan saya sebagai suami. Hampir 3 tahun tidak pernah ada kabar.

SAYA sangat sulit menghubungi Nunung istri saya di mana ia berada. Empat anak kami, yaitu Melda yang duduk di bangku kelas III SMP, Dian kelas II SMP, Ayu kelas IV SD dan Irma 7 tahun kelas I SD. Mereka seperti anak piatu karena selalu merindukan ibunya. Bahkan anak kami yang sulung tak jarang termenung sambil meneteskan air mata karena rindu bertemu ibunya.

Iyuk calo Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang merekrut istri saya malah seolah tidak peduli kegelisahan hati saya dan anak-anak kami. Bahkan sewaktu-waktu Iyuk melintas di depan rumah kami malah buang muka sama sekali hatinya tidak tergugah untuk menyambangi anak-anak saya.

Saya menganggap Iyuk sudah terlalu yang seharusnya merasakan betapa sakitnya hati seorang ibu yang tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya dalam kurun waktu bertahun-tahun. Dan seperti apa pedihnya hati anak-anak saya yang hanya bisa membayangkan wajah ibunya.

Saya bukan tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari istri dan anak saya. Tapi sampai hari ini kami tidak pernah merasakan seperti apa uang hasil dari TKW di negara Arab Saudi.

Iyuk saya curigai ia berhasil membujuk istri saya menjadi TKW pasti dengan iming-iming bakal mendapat uang dalam jumlah besar jika bersedia berangkat ke Arab Saudi. Hal itu bisa saya pastikan sampai membuat istri saya terperdaya.

Saya tidak terlalu mempermasalahkan ada tidaknya kiriman, tapi setidaknya saya selaku suami sangat membutuhkan bisa berkomunikasi melalui telepon dengan Nunung istri saya.

Memang saya akui, pada tahun pertma setelah Nunung berangkat ke Arab Saudi, tidak lebih hanya sekali pernah berbicara dengan Nunung. Itu pun karena bertepatan hari raya Idul Fitri. Sejak itu sampai sekarang tidak ada berita lagi. Saya coba hubungin ke telepon tersebut sudah tidak aktif. Kadang bisa dihubungi, tapi tidak ada yang mengangkat telepon tersebut.

Berkaitan dengan tidak jelasnya istri saya Nunung di negara mana sebenarnya berada, saya masih menanti hati dan pikiran Iyuk tergugah. Jika tidak dan sengaja berpura-pura tidak tahu, dengan terpaksa saya akan melaporkan dia ke polisi karena harus bertanggungjawab nasib Nunung. Setiap saya temui, ungkapan Iyuk selalu sabar.

Herman Bin Totong berusia 31 tahun ini kini tampak badannya agak kurus dan sering melamun. Ayah empat anak ini, sehari-harinya menggeluti usaha perbengkelan kadang linglung dan kebingungan karena memikirkan nasib Nunung istrinya. Dia sangat berharap kepada semua pihak jika menemukan Nunung supaya dianjurkan segera kembali ke Kampung Campea RT.07, RW.03, Desa Kampung Sawah, Kec. Jayakerta, Kab. Karawang, Jabar.

Selain itu, Herman juga berharap kepada maqtab (agen rekrutment PT AL Zubara Manpower Indonesia di Arab Saudi supaya mengembalikan Nunung segera ke Indonesia. Suami dan anak-anaknya sangat merindukan terlebih Irma yang ditinggal masih berusia 4 tahun. Siang dan malam selalu memanggil: “Mama pulanglah Irma dan papa sudah rindu.”

Iyuk yang tinggal tak jauh dari rumah Herman, ReALITA Online belum berhasil menemuinya karena karena sering pulang pada malam hari. Syam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar