Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Selasa, 14 September 2010

Nase Calo TKI Rampas Paspor Milik Yati ?

CIKARANG, ReALITA Online Yati Binti Asim (30) warga Kp. Pule RT.01, RW.03, Desa Karang Setia, Kec. Karang Bahagia, Kab.Bekasi, Jawa Barat, kembali dari Jeddah Agustus 2010 lalu karena cuti selama 3 bulan. Belum puas melepaskan rindu terhadap kedua orang tua dan saudara-saudaranya, Nase sebagai calonya dua tahun lalu muncul dan kemudian minta paspor berdalih mau diperiksa. Akan tetapi, setelah paspor di tanganya, ia balik meminta uang tebus sebesar Rp.1 juta.

TINDAKAN yang merugikan Tenaga Kerja Indoensia (TKI) khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW) tampaknya tak henti-hentinya. Jangankan di negara asing, di negeri sendiri juga masih tetap diusik oleh oknum-oknum yang menggeluti dunia Penggerak Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).

Seperti halnya masalah yang menimpa Yati yang baru 15 hari melepas rindu dan menghirup udara di Kampung Pule. Namun tepatnya tanggal 16 Agustus 2010, seorang pria bernama Nase tiba-tiba muncul.

Kedatangan pria asal Batujaya Karawang ini, awalnya Yati sama sekali tidak berburuk sangka. Apalagi pengambilan paspor miliknya tidak begitu dipermasalahkan karena Nase berdalih mau dilakukan pemeriksaan--barangkali benar adanya.

Beberapa hari kemudian setelah paspor diambil, kata Yati lebih lanjut, Nase tiba-tiba menghubunginya melalui telepon celuler minta siapkan uang sebesar Rp.1 juta baru paspor diserahkan.”Kalau tidak menyediakan uang Rp.1 juta paspormu tidak bakal saya serahkan,” ujar Nase dalam pembicaraan lewat celular seperti dikutip Yati.

Yati menjelaskan, sewaktu ia berada di penampungan PT Elferida hanya sampai ia diterbangkan ke Jeddah Arab Saudi pada Maret 2008, dia menerima uang tidak lebih dari Rp 200 ribu dari Nase. Setibanya di Jeddah, dia sebagai pembantu rumah tangga di rumah keluarga Telig.

Yati kepada ReALITA Online mengatakan, setelah berada di Jeddah tidak lama kemudian, mengirim uang sebesar Rp.1 juta kepada Nase. Sedangkan Rp.400 ribu Asim ayahnya langsung menyerahkan kepada Nase di rumah mereka di Kampung Pule atau sebelum Yati kembali ke Indonesia, “Kekurangan tinggal Rp.600 ribu lagi,” tandasnya.

Berkaitan dengan paspor tersebut, Yati mengaku telah berulangkali menghubungi Nase supaya mengembalikannya. Namun Nase, tegas Yati, tetap bersikukuh harus ada uang Rp. 1 juta. ”Saya tidak punya uang lagi, untuk kembali ke Jeddah saja saya menunggu kiriman tiket dari majikan saya,” keluhnya.

Tentang sponsor masih mengejar-ngejar TKW yang kembali karena cuti, Ustad Syamsudin salah satu sponsor dari PT Safika menanggapi bahwa tindakan Nase telah bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku tentang TKI. “Sponsor tidak diperbolehkan dengan dalih apapun untuk memungut biaya kepada calon TKI. Sponsor sudah mendapat jasa dari perusahaan setiap membawa calon TKI. Dan uang jasanya tidak kecil. Jadi tindakan Nase adalah akal-akalan dan pemerasan. Maka itu saya sarankan kepada Yati supaya langsung melaporkan ke polisi tindakan Nase,” tegas ustad itu.

Sementara itu, Nase yang dikonfirmasi dengan sms melalui telepon celularnya tidak menjawab. Bahkan ketika dihubungi tidak mengangkat celularnya. ”Saya mau lapor ke polisi kalau Nase tidak mengembalikan paspor saya. Tindakannya itu pemerasan terhadap diri saya,” tegas Yati. esi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar