
Menurut Hilmar, pelajaran sejarah di kelas biasanya membosankan--tidak ada daya tariknya sama sekali bagi anak didik.
Dia menambahkan, kurikulum sejarah berubah dari waktu ke waktu. Tetapi masalah dasarnya adalah keterlibatan guru dalam proses ini. "Guru banyak tidak membaca mengenai sejarah. Anak-anak di sekolah susah belajar, nah karena gurunya saja tidak mengerti.
Untuk itu, lanjut Hilmar, kita perlu kurikulum khususnya mengenai pelajaran sejarah kurikulum yang berpijak.
Ketika disinggung mengenai pelajaran sastra,” Era sekarang ini kita tidak memiliki panutan sastrawan yang menjadi patokan dan mencirikan bangsa ini,” kata Hilmar.
“Jika kita tanya kepada anak-anak tentang idola sastrawan, mereka pasti sebutnya beda-beda. Karena kita tiap angkatan memiliki sastrawan yang berbeda, sehingga tidak pernah ada sambungan dan kesatuan.
"Harusnya bikin saja 100 daftar buku dengan karya sastrawan yang wajib dibaca orang Indonesia. Dan itu bisa dilakukan lewat mana saja, misalnya lewat pendidikan," tandas Hilmar. Kompas, esi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar