Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Sabtu, 30 Oktober 2010

5.000 Siswa SMU Tes Minat dan Bakat

JAKARTA, ReALITA Online — Sedikitnya 5.000 pelajar SMU se-Jakarta mengikuti tes minat dan bakat yang dilakukan serentak dalam Cerebrovit X-cel Brain Exploration, Jumat (29/10/2010), di Britama Sport Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ajang ini digelar untuk menilai potensi dan keminatan pelajar sehingga bisa lebih memahami potensi diri mereka dalam menentukan jurusan di perkuliahan.

"Dalam masa globalisasi ini pelajar dituntut untuk punya kompetensi tinggi agar bisa bersaing dalam dunia kerja nantinya," kata Marketing and Sales Director PT Kalbe Farma, Widjanarko Loka Djaja.

Menurut Widjanarko, saat ini masih banyak pelajar yang belum tahu tentang potensi dan minat mereka. Akibatnya, mereka tidak bisa mengembangkan potensi diri secara optimal.

Kegiatan Cerebrovit X-cel Brain Exploration ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan dihadiri sejumlah ahli seperti WP Napitupulu (mantan Ketua Komnas Harian Indonesia untuk Unesco), Sarlito Wirawan (Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia) dan Winarno Surakhmad (Guru Besar Pendidikan dan mantan rektor Universitas Negeri Jakarta).

Widjanarko mengatakan, ratusan psikolog lulusan UI ikut serta dalam menguji minat dan bakat para peserta dengan menggunakan modul standar. "Ini adalah event tes minat dan bakat pertama dan terbesar di Indonesia sehingga Museum Rekor Indonesia akan memberikan penghargaan," ungkapnya.

Gunakan Tes Minat dan Bakat Terlalu Dini

Tes minat dan bakat bisa dilakukan untuk menilai potensi belajar dan keminatan para siswa agar lebih memahami potensinya dalam menentukan jurusan perkuliahan. Tetapi, hal itu bukan satu-satunya faktor untuk meneropong bakat dan minat siswa.

Demikian diungkapkan Winarno Surakhmad, Guru Besar Pendidikan dan mantan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di acara X-cel Brain Xploration. Test Minat Bakat 5.000 Siswa, Kamis (29/10/2010), di Jakarta. Winarno mengatakan, tes semacam itu bukan satu-satunya jalan, karena masih ada beberapa banyak faktor lain seperti tes IQ, spiritual intelegence test, emotional intelegent test dan lain-lainnya.

"Jika sudah punya kesukaan terhadap suatu bidang itu sudah poin plus buat diri kita sendiri," lanjut Winarno.

Winarno bilang, zaman dahulu dikenal dengan pola tes IQ untuk menggambarkan potensi diri seorang anak. , Jika IQ mencapai di atas 140, lanjut dia, anak sudah dianggap pintar.

Namun, seiring perkembangan zaman pola itu sudah berubah. Tidak ada penelitian yang menggatakan jika IQ anak di atas 140 itu otomatis adalah anak pintar.

"Kemudian zaman sekarang sudah banyak vitamin yang menjamur, yang katanya bisa mencerdaskan siswanya, namun belum ada pembuktian soal itu," lanjut Winarno.

Pendekatan guru

Vitamin tidak bisa dijadikan patokan. Alangkah baiknya, lanjut Winarno, jika pola yang diterapkan adalah menjadikan seorang guru dekat atau mau melakukan pendekatan kepada siswanya. Pendekatan ini terutama dilakukan oleh pihak sekolah.

"Guru harus bisa memahami siswanya, jangan sebaliknya, siswa yang memahami gurunya," ucap Winarno.

Winarno menegaskan, tidak ada siswa yang bodoh. Yang betul, kata dia, siswa itu belum bertemu dengan guru yang pintar.

Dia menilai, masih terlalu dini tes bakat dan minat dijadikan pola pendekatan untuk menentukan jurusan yang akan diambil siswa untuk melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi.

"Lihat dulu orientasi atau kecenderungan si anak waktu kecil," imbuh Penasihat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar