KARAWANG, ReALITA Online — Hamparan
ratusan hektare sawah di Kecamatan Klari, Kabupaten Kawarang, Jawa Barat,
tampak menguning menandakan sudah siap dipanen.
Di
tengah teriknya matahari, tampak seorang petani bernama Taslim, 51 tahun,
sedang asyik memanen padi. Tak jauh dari tempatnya bekerja, tampak kepulan asap
dari cerobong sebuah pabrik.
Memanen
padi sambil menghirup polusi udara pabrik memang sudah jamak bagi Taslim,
terutama 10 tahun belakangan ini. Maklum, perkembangan industri yang semakin
pesat di wilayah Karawang membuat ribuan hektare sawah cepat beralih menjadi
lahan pabrik. "Semakin hari, kawasan pertanian memang semakin terdesak
oleh pabrik," ujarnya.
Kepala
Seksi Produksi Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang, Nanang
Sumpena, mengatakan bahwa saat ini dampak konversi lahan memang belum terasa.
Tahun lalu, Karawang masih mampu menghasilkan beras 837.421 ton. Jumlah itu
jauh melampaui kebutuhan kabupaten, yang hanya 295.763 ton. Dengan demikian,
terdapat surplus beras sebanyak 541.658 ton.
Hanya
saja, ia tak yakin produktivitas itu bisa dipertahankan. "Dari target
produksi sekarang, (dampak penyusutan --Red.) memang masih belum terasakan,
entah 10 tahun lagi," ujarnya. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, laju
penyusutan lahan pertanian di Karawang mencapai 104 hektare per tahun.
Dindin
Rachmady, Kepala Bagian Prasarana dan Tata Ruang Bappeda Kabupaten Karawang,
mengungkapkan, tahun 1989 adalah awal mula beralihnya sebagian lahan pertanian
di Karawang ke industri. Ketika itu, Presiden Soeharto menerbitkan Keputusan
Presiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri yang diarahkan ke
Karawang. Berkembangnya industri ini memicu datangnya tenaga kerja dari luar ke
wilayah itu. Pada gilirannya, industri lahan pertanian juga terdesak oleh kebutuhan
perumahan.
Akibatnya,
Kabupaten Karawang semakin sulit mempertahankan lahan pertanian. Terlebih,
Karawang juga masuk dalam peta pengembangan Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Mempertahankan lahan pertanian bagi
warga Karawang bukanlah sekadar menjaga eksistensi sebagai kawasan lumbung
pangan. Lebih dari itu, lahan pertanian adalah sumber utama penghidupan
penduduk. "Industri tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal," kata
Dindin.
Kondisi
serupa terjadi di banyak daerah di Indonesia. Menurut pengamat masalah pangan
dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Said Abdullah, demi melihat
ancaman krisis pangan yang di depan mata, seharusnya pemerintah mengubah
orientasi pembangunan untuk memperkuat basis produksi pangan. Masalahnya, lewat
program MP3EI, pemerintah malah semakin mengancam basis-basis produksi pangan.
Selama ini, Jawa menjadi tulang punggung pangan nasional dengan luas lahan
pertanian mencapai 3,5 juta hektare. Sumatera menduduki posisi kedua, dengan
luas lahan 2,39 juta hektare.
Tetapi
dua wilayah itu malah akan dijadikan koridor industri. Menteri PPN/Kepala
Bappenas, Prof. Armida Salsiah Alisjahbana, mengatakan bahwa Jawa akan
dikembangkan sebagai basis industri makanan, minuman, tekstil, alutsista, dan
peralatan transportasi. Sumatera akan menjadi pusat industri perkebunan dan
pertambangan. "Setiap koridor memiliki prioritas yang sama sesuai dengan
potensinya masing-masing," ujarnya.
Mengingat
perannya sebagai tulang punggung produksi pangan, menjadikan Jawa dan Sumatera
sebagai koridor industri jelas mengherankan. Sebaliknya. pemerintah malah
cenderung mengembangkan lahan pertanian ke luar Jawa dan Sumatera. "Ini
tentu pekerjaan berat," katanya. Biaya mencetak sawah baru sangat besar,
mencapai Rp 10 juta per hektare. "Persoalan dana menjadi alasan utama
kegagalan mencetak sawah baru dalam jumlah besar," ia melanjutkan.
Said
Abdullah menyatakan, pemerintah perlu memikirkan ulang rencana tersebut.
Pemerintah harus menjadikan pertanian sebagai bidang usaha yang menguntungkan
dan menjanjikan secara ekonomi. Untuk itu, diperlukan insentif bagi petani.
Selain dalam bentuk subsidi benih dan pupuk, juga diarahkan pada produk dan
pasar. Insentif pun bisa diberikan dalam bentuk asuransi, baik kesehatan maupun
pendidikan. "Dengan cara ini, perpindahan sawah bisa dikurangi,"
ujarnya. Sumber: gatra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar