Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Rabu, 30 Mei 2012

Keluarga Dhani Berharap Insiden Bentrok Antarsuporter Tak Terulang


BEKASI, ReALITA Online — Pihak  keluarga Almahum Dhani Maulana (17) seorang pelajar yang tewas dalam insiden tawuran antarsuporter sepakbola di Gelora Bung Karno, Minggu (27/5), mengaku ikhlas dan mengimbau seluruh pihak tak terprovokasi.
"Kami ikhlas karena kematian bisa menghampiri siapa saja dan kapan saja. Saya berharap insiden ini tidak terulang," ujar paman korban, Cecep Sumarna (50), di rumah duka, Kampung Pedurenan RT 5 RW 5 Kelurahan Jatiluhur, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/5).
Berdasarkan keterangan yang diterimanya dari polisi dan juga teman Dhani, keponakannya itu sudah mau pulang begitu pertandingan usai. Bersama teman-temannya, Dhani menumpang metromini.
"Tapi katanya Dhani turun waktu metromini melintasi tempat tawuran antarsuporter. Tas, dompet, dan handphonenya dititipkan, sehingga polisi akhirnya sulit melacak identitasnya," ujanya.
Sejauh ini, keluarga belum menentukan langkah lanjutan terhadap kejadian yang menimpa Dhani. Keluarga hanya berharap ada itikad baik dari seluruh pihak yang terkait dengan kejadian ini.
"Kami mengutuk kejadian ini. Semestinya pendukung kesebelasan menahan emosinya masing-masing supaya tidak memicu keributan yang pada akhirnya memakan korban. Jangan mimpi sepakbola tanah air bisa maju jika sikap pendukungnya tetap seperti ini," katanya.
Sementara itu, ibu kandung korban, Sutini (45), mengaku tidak menyangka anak sulung buah pernikahannya dengan Jahedin (45) itu tewas secara mengenaskan.
"Hari itu, sekitar pukul 11.00 WIB, Dhani pamitan pada saya untuk menyaksikan langsung pertandingan sepakbola di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta," katanya.
Siswa kelas XI SMKN 58 Bambu Apus, Jakarta Timur itu berangkat menggunakan metromini bersama teman-temannya tanpa menggunakan atribut spesifik dari salah satu klub tertentu.
Malam harinya, Dhani tak pulang ke rumah. Sutini mengira Dhani menginap di rumah temannya. "Ada yang lihat Dhani menginap di rumah temannya. Tapi ternyata dia salah lihat, itu bukan Dhani," ujarnya.
Kegelisahannya makin menjadi karena upaya menghubungi nomor handphone Dhani, tak membuahkan jawaban sekali pun. Senin (28/5) siang, sang ayah pun mencoba mencari Dhani ke Senayan. Namun upaya ini pun nihil.
Sutini makin tak tenang karena makin marak pemberitaan perihal korban tewas akibat tawuran antarsuporter saat berlangsungnya pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung.
Ia pun meminta suaminya untuk mengecek ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta karena khawatir Dhani termasuk salah satu korban tawuran tersebut.
Dugaannya benar. Ia pun harus tabah menghadapi kenyataan pahit saat melihat tubuh putra sulungnya terbujur kaku di kamar jenazah RSCM dengan sejumlah luka lebam di sekujur tubuh.
Setelah memenuhi sejumlah prosedur yang disyaratkan pihak kepolisian, jenazah Dhani baru dapat diambil Selasa (29/5) siang. Jenazah penyuka sepakbola itu langsung dikebumikan di TPU Jatisari yang tak jauh dari rumahnya. ANT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar