BEKASI, ReALITA Online — Saipunawas Raepani menunjukkan boneka hasil produksinya di Bekasi, Jawa Barat, belum lama ini. Berbekal keuletan, Saipunawas sukses mengembangkan bisnis pembuatan boneka.Keuletan mengantar Saipunawas Raepani menjadi pengusaha boneka sukses. Kini, usaha yang dimulai dengan bekal lima mesin jahit dan uang pinjaman Rp12juta itu telah membukukan omzet ratusan juta rupiah. Menggeluti usaha pembuatan boneka tak pernah terpikir dalam benak pria kelahiran Bumiayu, Brebes, 43 tahun silam ini.Terlahir dari ayah petani dan ibu penjahit, Saipunawas kecil terbiasa hidup kekurangan.
Terkadang saat masa paceklik,dia terpaksa menunggak bayaran uang sekolah lantaran orang tuanya tak punya uang. “Kalau diomelin guru gara-gara belum bayar, saya sih ndableg saja. Biarin, yang penting semangat sekolah,” ujarnya. Ketiadaan biaya juga menghentikan langkah Saipunawas untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi.
Selepas tamat sekolah menengah, dia membulatkan tekad merantau ke Surabaya.Selama lebih dari setahun, dia mengadu nasib di Kota Pahlawan itu dengan berjualan apa pun asalkan halal. “Dagang mi ayam, bubur ayam, pokoknya kerja apa sajalah yang penting halal dan bisa buat makan,” ucap pria yang akrab disapa Nawas itu. Setahun kemudian, tepatnya pada 1986, Nawas mencoba peruntungan di Ibu Kota sebelum akhirnya pindah ke Bekasi.
Mulai 1990,dia mengikuti jejak kakaknya berdagang ayam potong di pasar Bantargebang, Bekasi. Namun, krisis moneter membuat usahanya merugi. Usaha dagang ayam potong yang telah dijalani lebih dari lima tahun itu pun bangkrut dan Nawas menganggur di rumah. “Tapi saya di rumah nggak bisa diam. Lalu, saya berbisnis apa saja yang saya bisa beli lalu bisa dijual kembali.
Misalnya boneka,alat elektronik, dan mesin jahit bekas. Nah,dari situlah saya mulai kenal dengan para perajin boneka. Barulah ada feeling kesana (boneka),”tuturnya. Tahun 2000, Nawas bersama seorang rekannya yang pernah bekerja di pabrik boneka di Korea lantas merintis usaha pembuatan boneka di Bekasi dengan nama PD Dwi Putra Mandiri Toys. Sayangnya, dua tahun kemudian usaha patungan itu berakhir.
Namun, seperti kata penulis berkebangsaan Amerika Napoleon Hill, setiap kegagalan ternyata membawa benih kesuksesan. Berbekal pengetahuan dan pengalaman cara membuat boneka, Nawas bertekad meneruskan roda usaha PD Dwi Putra Mandiri Toys sendirian. Gayung pun bersambut manakala saat itu seorang kenalan menawarinya pinjaman modal usaha sebesar Rp12juta dan lima unit mesin jahit.
Bersama lima mitra pekerja, usaha rumahan itu mampu memproduksi hingga 100 boneka per hari. Untuk menambah kapasitas produksi, Nawas mencari tambahan mesin jahit bekas pabrik. “Kalau ada yang jual mesin dan kondisinya masih bagus, langsung saya beli, lalu saya kasih ke warga sekitar yang mau jadi mitra kerja. Satu orang mitra bisa sampai lima mesin dan mereka boleh mengerjakan di rumah masing-masing.
Hasilnya, produksi boneka kami pada 2004 secara kumulatif bisa mencapai 2.000 buah karena yang kerja banyak,” bebernya. Seiring kapasitas produksi dan permintaan pasar yang terus bertambah, rumah Nawas di kawasan Bantargebang barat yang dijadikan basis produksi pun sudah kewalahan. Pada 2006, dia membangun ruangan tersendiri di belakang rumahnya yang lantas dijadikan tempat produksi boneka.
Di area seluas 550 meter persegi ini, sebanyak 50 pekerja mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB melakukan proses produksi,mulai pemotongan kain, penjahitan, memasukkan dakron ke dalam badan boneka hingga finishing. “Dengan menggunakan 18 mesin jahit, dalam sehari kami bisa memproduksi sampai 500 boneka,” sebutnya. Memanfaatkan jejaring yang dimiliki semasa berdagang, ayah empat anak ini berhasil memasarkan bonekanya di kawasan Jakarta, Surabaya hingga Samarinda.
Omset per bulan pun kini menembus angka Rp 600 juta. Berkat keuletan, kegagalan yang pernah direguknya kini berbuah kesuksesan. Di sisi lain,dia bersyukur karena bisa menggandeng warga sekitar. Termasuk kakak dan adik kandungnya yang dahulu berdagang ayam potong kini juga menggeluti usaha rumahan pembuatan boneka. “Jadi, kalau dulu kami keluarga ayam, sekarang keluarga boneka. Ha ha ha,”ujarnya terbahak.
Menurut Nawas, saat ini jumlah item model boneka yang diproduksinya telah mencapai lebih dari 500 model yang dijual dengan kisaran harga Rp7.000– 125.000. Beberapa di antaranya adalah boneka model beruang, panda, dolphin, bebek, pisang, dan spongebob. Untuk boneka model baru biasanya menyesuaikan dengan film kartun di televisi yang tengah digemari anak-anak. Misalnya yang tengah booming saat ini adalah kartun Shoun the Sheep yang ditayangkan MNC TV.
“Biasanya kalau kartunnya ramai, bonekanya juga laris. Saat momen tertentu seperti Valentine, produksi boneka warna pink atau bantal model Love juga kami tambah karena permintaan banyak,”tuturnya. Nawas menambahkan, penjualan boneka biasanya tinggi pada November hingga Februari. Adapun Juni hingga September dan masa tertentu seperti bulan puasa dan menjelang Lebaran, biasanya omset boneka menurun.
Untunglah saat ini Nawas sudah menggaet sekurangnya 10 buyer tetap dengan pemesanan berkisar 200–500 keping per pesanan. Perkenalan Nawas dengan BNI Syariah terjadi pada awal tahun ini. Saat itu, staf marketing BNI Syariah kebetulan bertandang ke rumah yang sekaligus menjadi basis produksi usaha bonekanya di jalan Pangkalan Asem, Bantargebang. Ketika ditawari pembiayaan usaha BNI Syariah, Nawas pun mengaku tertarik untuk mencoba.
“Siapa tahu ada kecocokan kerja sama, apalagi sebelumnya saya belum pernah melakukan pinjaman dari bank,”ujarnya. Setelah menganalisis kelayakan usaha dan neraca keuangan PD Dwi Putra Mandiri Toys milik Nawas, BNI Syariah akhirnya mengucurkan pembiayaan sebesar Rp300 juta untuk jangka waktu 3 tahun. Dana tersebut lantas dipakai Nawas untuk pengembangan usaha, perluasan kantor.
Dia juga membuka toko boneka berukuran 8 x 6 meter di Pedurenan, Bekasi, guna menampung boneka-boneka hasil produksi rumahan mitra-mitra pedagang kecil. Selain itu, sebagian dana dimanfaatkan untuk penambahan bahan baku. “Kalau dulu karena keterbatasan bahan baku, saya memproduksi boneka sesuai dengan jumlah pesanan saja, nggak berani menyimpan stok.
Dengan adanya penambahan bahan baku, saya berani menyimpan stok sedikit. Apalagi, sekarang saya sudah ada jaringan penyuplai bahan baku untuk memastikan bahwa saat ada permintaan, saya nggak susah cari bahannya,”ucap dia. Nawas bersyukur karena keputusannya menerima pembiayaan dari BNI Syariah sudah tepat. Dengan kata lain, dana tersebut terbukti bermanfaat untuk pengembangan usahanya. “Artinya ada kecocokan kerja sama dengan BNI Syariah. Dari modal yang dikucurkan ke saya, terlihat bahwa usaha saya ada perkembangan,”tandasnya.
Menghimpun Pengusaha Boneka Se-Bekasi
Kendati saat ini pengusaha boneka di Bekasi jumlahnya mencapai ratusan, Nawas mengaku tak takut tersaingi. Malah, kata dia, semakin banyak yang memproduksi semakin ramai dan dia semakin senang. Bersama rekan sesama pelaku usaha kecil boneka,Nawas juga menggagas asosiasi Himpunan Industri Boneka plus Bordir yang bermarkas di Rawa Lumbu.
“Saat ini anggotanya memang baru 25 home industries, tapi kami yakin akan terus bertambah karena industri rumahan yang kecil-kecil pun kami rangkul semua,”tegasnya. Menurut Nawas, pendirian asosiasi tersebut berangkat dari gagasan rekan-rekannya agar pengusaha kecil terlindung dari praktik monopoli perdagangan atau pembelian bahan baku boneka oleh oknum pengusaha atau pedagang bermodal besar.
Pasalnya, kata dia, dulu sering kali terjadi kelangkaan bahan baku boneka di pasaran akibat adanya kecurangan yang dilakukan pengusaha kelas kakap. “Melalui asosiasi ini, kami juga ingin memajukan home industry yang kecil-kecil. Mereka yang tadinya hanya kerja saja diarahkan untuk bisa kreatif dan memproduksi sendiri. Kami juga akan mendirikan koperasi untuk wadah bantuan modal, pembinaan, dan pemasaran bagi para anggota,”ujarnya.
Nawas yakin boneka hasil produksi industri rumahan tak kalah bagus dibandingkan boneka impor. Dia juga mengaku penjualan boneka di dalam negeri tak terpengaruh boneka impor asal China yang membanjiri pasaran.“Yang penting kita komitmen menjaga mutu,” pungkasnya. Sumber: sindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar