Laman

HARTATI DIDUGA MENYUAP UNTUK JEGAL BISNIS ANAK AYIN *** DUA ANAK BUAH HARTATI MURDAYA TERANCAM LIMA TAHUN PENJARA *** ATURAN RSBI HARUS LEBIH RASIONAL DAN REALISTIS *** WASPADA, BANYAK JAMU DICAMPUR BAHAN KIMIA OBAT! *** BNPT: 86 % MAHASISWA DI 5 UNIVERSITAS TENAR DI JAWA TOLAK PANCASILA *** BNPB ALOKASIKAN RP80 MILIAR UNTUK PENANGGULANGAN KEKERINGAN ***

Jumat, 21 Oktober 2011

Pabrik Teh Rakyat Libur Akibat Pasokan Anjlok

PURWAKARTA, ReALITA Online — Sejumlah pabrik teh di sentra teh rakyat di Wanayasa, Bojong, Darangdan, dan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, libur sementara karena kesulitan memperoleh pasokan pucuk daun teh. Akibat kemarau tiga bulan terakhir pasokan teh basah dari petani dan pengepul anjlok.

Uum (52), pengepul dari Desa Sukamanah, Kecamatan Bojong, Rabu (19/10/2011), mengaku kesulitan mengumpulkan pucuk daun teh, karena sebagian besar produksi teh dari kebun-kebun rakyat anjlok. Saat musim hujan, dia mengaku bisa mengumpulkan 1-2 ton teh basah per hari, namun tiga bulan ini dia rata-rata hanya mampu mengumpulkan 0,4-0,5 ton per hari.

Sejumlah pabrik pengolah skala kecil di desa dan kampung-kampung di daerah, mengurangi intensitas pengolahan dari harian menjadi 1-2 kali sepekan. Sebagian berhenti produksi dan meliburkan pekerja untuk sementara waktu, karena kuota bahan baku minimal 2 ton sulit terpenuhi.

Menurut Ade Sugema (49), Ketua Kelompok Tani Wargi Mukti di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, selain menurunkan produksi, kemarau juga menyebabkan sebagian tanaman mati kekurangan air. Tanaman dipastikan tak tumbuh lagi, dan petani harus menggantinya dengan tanaman baru.

Seiring anjloknya produksi pucuk daun teh basah, harga komoditas itu merangkak naik. Harga pucuk teh yang sebelumnya Rp 1.000 per kilogram, kini Rp 1.600 per kilogram. Teh hasil olahan juga naik dari Rp 7.500 per kilogram menjadi Rp 12.500 per kilogram. kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar